EBITDA MBMA Melonjak 300% di Semester I 2026, Capai US$ 313 Juta

 

EBITDA MBMA Melonjak 300% di Semester I 2026, Capai US$ 313 Juta

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatatkan kinerja keuangan yang sangat kuat pada paruh pertama 2026, dengan EBITDA melonjak sekitar 300 persen secara tahunan.

Kinerja Keuangan Semester I 2026

MBMA mengantongi laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$ 313 juta pada semester I 2026, melonjak sekitar 300 persen secara tahunan. Capaian kinerja tersebut berada di jalur yang sesuai dengan proyeksi PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) dan konsensus pasar, yang masing-masing telah memenuhi 49 persen dan 50 persen dari estimasi setahun penuh.

Pada kuartal II 2026 saja, EBITDA perseroan tercatat sebesar US$ 169 juta, ditopang oleh tingginya kontribusi segmen SCM serta ekspansi margin bijih nikel menyusul penyesuaian formula Harga Patokan Mineral (HPM) pada April 2026.

Di sisi lain, MBMA mencetak laba bersih kuartal II 2026 sebesar US$ 24 juta, sehingga akumulasi laba bersih semester I 2026 mencapai US$ 54 juta. Realisasi laba bersih ini masih di bawah target Indo Premier dan konsensus yang masing-masing baru terealisasi 29 persen dan 33 persen, dipicu kerugian selisih kurs sebesar US$ 32 juta serta penurunan performa entitas asosiasi MIA yang membukukan rugi bersih US$ 37 juta akibat penghentian sementara operasional pascabencana longsor fasilitas tailing.

Faktor Pendorong Kinerja

Analis PT Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta menuturkan faktor pendorong kinerja keuangan perseroan pada paruh pertama tahun ini.

"Peningkatan EBITDA terutama berasal dari kontribusi SCM yang lebih tinggi serta kenaikan margin bijih nikel setelah revisi HPM pada April 2026, meskipun sebagian terdampak oleh penurunan margin kas NPI dan HGNM," ujar Ryan.

Dari aspek operasional, penguatan harga nikel di London Metal Exchange (LME) mendorong kenaikan harga jual rata-rata (ASP) bijih limonit sebesar 29 persen menjadi US$ 26,1 per wmt dan saprolit sebesar 106 persen menjadi US$ 58,9 per wmt secara kuartalan.

Volume Penjualan Semester I 2026

Sepanjang semester I 2026, MBMA mencatatkan volume penjualan sebagai berikut:

Bijih saprolit: 4,2 juta wmt

Bijih limonit: 8,1 juta wmt

NPI: 39.396 ton

HGNM: 18.513 ton

Asam sulfat (unit AIM, kuartal II): 383.000 ton

Prospek dan Rekomendasi Analis

Meskipun terdapat risiko eksekusi proyek HPAL, volatilitas harga nikel, dan beban biaya tunai, IPOT memberikan pandangan positif terhadap prospek pergerakan saham perusahaan tambang tersebut.

"Dengan hasil yang sejalan dengan perkiraan kami, kami mempertahankan rekomendasi Buy untuk MBMA dengan target harga Rp 745 per saham," tulis analis Indo Premier Sekuritas.

Target harga saham MBMA tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 49 persen dari harga penutupan Rp 500 pada 25 September 2026, di mana tambahan pasokan limonit diperkirakan mulai mengalir pada kuartal IV 2026 seiring persetujuan kuota RKAB dan beroperasinya fasilitas SLNC HPAL.

Next Post Previous Post