ID Food Raih Laba Bersih Rp1,34 Triliun pada 2025
Laba Melampaui Target RKAP 2025
Realisasi keuntungan BUMN pangan tersebut melampaui target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025 sebesar Rp621 miliar, atau setara 216 persen dari target. Lonjakan kinerja ini didorong oleh kombinasi perbaikan operasional serta pembenahan struktur keuangan perusahaan.
Pendapatan Konsolidasian Naik 55,5 Persen
Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, menjelaskan bahwa lonjakan pendapatan konsolidasian menjadi penopang utama pemulihan profitabilitas perseroan sepanjang tahun lalu.
“Pada 2025, pendapatan konsolidasian perseroan mencapai Rp19,91 triliun, meningkat 55,5% dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp12,80 triliun. Pertumbuhan pendapatan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong perbaikan kinerja perseroan sepanjang tahun 2025,” ungkap Ghimoyo dalam keterangannya, Jumat (4/9/2026).
Kinerja Operasional Menguat di Berbagai Komoditas
Peningkatan operasional tercermin dari penjualan gula yang ditopang kenaikan produksi gula nasional hingga 329.728 ton, atau 103 persen dari target. Selain itu, perdagangan daging, gandum, serta kinerja positif anak perusahaan di sektor peternakan, perikanan, garam, dan pertanian turut memperkuat pendapatan.
EBITDA Naik 110,5 Persen Berkat Restrukturisasi Keuangan
Dari sisi keuangan, perseroan mencatatkan kenaikan EBITDA sebesar 110,5 persen menjadi Rp899 miliar dari sebelumnya Rp427 miliar pada 2024. Hal ini dipengaruhi oleh langkah restrukturisasi keuangan, optimalisasi aset, hingga surplus revaluasi aset.
Ghimoyo menegaskan bahwa penguatan EBITDA memberikan ruang gerak yang lebih sehat bagi operasional perusahaan.
“Kondisi ini memberikan ruang yang lebih baik bagi Perseroan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan kewajiban pembiayaan, sekaligus menjaga kapasitas investasi dan pengembangan usaha secara berkelanjutan,” jelas Ghimoyo.
Fokus 2026: Produktivitas, Efisiensi, dan Optimalisasi Aset
Memasuki tahun 2026, perseroan memfokuskan strategi bisnis pada peningkatan produktivitas, efisiensi tata kelola, dan optimalisasi aset untuk mendukung target swasembada pangan pemerintah.
“Pertumbuhan pendapatan perlu memiliki fondasi operasional yang kuat. Karena itu, kami terus mendorong sisi produksi, memperkuat penjualan dan distribusi, serta memastikan pengelolaan setiap komoditas dilakukan secara efektif dan efisien,” kata Ghimoyo.

