IHSG Ditutup Turun 1,13%, Saham Big Bank hingga BYAN Jadi Pemberat

 

IHSG Ditutup Turun 1,13%, Saham Big Bank hingga BYAN Jadi Pemberat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah tajam pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Tekanan utama datang dari saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan pertambangan.

IHSG tercatat turun 1,13% pada akhir perdagangan. Pelemahan ini memperpanjang tekanan terhadap pasar saham domestik setelah pada perdagangan sebelumnya indeks juga ditutup melemah.

Penurunan IHSG dipengaruhi aksi jual terhadap sejumlah saham unggulan atau big cap. Saham-saham tersebut memiliki bobot besar dalam perhitungan indeks sehingga koreksinya memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan IHSG.

Saham Big Bank Tertekan

IHSG Ditutup Turun 1,13%, Saham Big Bank hingga BYAN Jadi Pemberat
(Foto IHSG dari Google Finansial)
Sektor perbankan menjadi salah satu sumber tekanan terbesar pada perdagangan hari ini. Sejumlah saham bank besar mengalami penurunan dan membebani pergerakan indeks.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menjadi perhatian investor.

Koreksi saham-saham tersebut terjadi di tengah meningkatnya aksi jual di pasar. Investor cenderung mengurangi kepemilikan pada saham berkapitalisasi besar seiring masih tingginya ketidakpastian pasar global dan domestik.

Sebelumnya, BBCA juga tercatat sebagai salah satu saham yang paling banyak menekan IHSG dalam perdagangan sepekan. Saham tersebut melemah 5,60% menjadi Rp6.325 per saham dan memberikan kontribusi negatif sebesar 33,09 poin terhadap indeks.

BYAN Ikut Membebani IHSG

IHSG Ditutup Turun 1,13%, Saham Big Bank hingga BYAN Jadi Pemberat
(Foto Saham BYAN dari Google Finansial)
Selain saham perbankan, tekanan juga datang dari saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Saham emiten batu bara tersebut termasuk salah satu saham berkapitalisasi besar yang mengalami koreksi cukup dalam.

Pada perdagangan sepekan sebelumnya, BYAN tercatat turun 10,51% menjadi Rp12.350 per saham. Penurunan tersebut memberikan tekanan negatif sekitar 23,63 poin terhadap IHSG.

Koreksi saham BYAN turut memengaruhi sentimen terhadap sektor energi dan pertambangan. Investor mencermati prospek harga komoditas, permintaan global, serta potensi perubahan kebijakan yang dapat berdampak terhadap kinerja emiten tambang.

Sentimen Global Masih Membayangi

Pelemahan IHSG juga berlangsung ketika investor masih mencermati sejumlah sentimen global. Kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan investasi.

Selain itu, pergerakan bursa saham Asia, nilai tukar rupiah, dan harga minyak turut menjadi perhatian pelaku pasar. Kombinasi sentimen tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi.

Pada perdagangan sebelumnya, IHSG sempat tertekan oleh koreksi bursa Asia, pelemahan rupiah, serta kekhawatiran terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed.

Prospek Perdagangan Berikutnya

Dengan penurunan sebesar 1,13%, pergerakan IHSG pada perdagangan berikutnya akan sangat bergantung pada arah saham-saham berkapitalisasi besar. Jika tekanan jual pada saham perbankan dan komoditas berlanjut, indeks berpotensi kembali bergerak volatil.

Sebaliknya, aksi beli pada saham unggulan dapat membantu menahan laju koreksi. Investor juga akan mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, arus dana asing, sentimen bursa global, serta data ekonomi terbaru.

Next Post Previous Post