IHSG Hari Ini, Selasa 8 September ke Level 6.678
| (Foto IHSG dari Google Finansial) |
Baca Juga: Cadangan Devisa Indonesia Naik Jadi 146,5 Miliar Dolar AS pada Agustus 2026
Cadangan Devisa Indonesia Naik, Apa Dampaknya bagi Pasar?
Cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat dari 145,3 miliar dolar AS pada Juli menjadi 146,5 miliar dolar AS pada Agustus 2026, level tertinggi sejak Maret 2026.
Kenaikan ini didorong oleh:
Peningkatan penerimaan pajak dan jasa.
Penarikan utang luar negeri pemerintah.
Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan kebutuhan impor selama 5,4 bulan, atau 5,3 bulan jika dihitung bersama pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini berada di atas standar internasional yang umumnya sekitar tiga bulan impor.
Menurut Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas, posisi cadangan devisa yang kuat dapat:
Mengimbangi pembayaran utang luar negeri.
Mendukung intervensi Bank Indonesia (BI) untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
Bagi pasar modal, sinyal ini penting karena cadangan devisa yang sehat mengurangi kekhawatiran investor terhadap risiko eksternal dan tekanan pada rupiah, sehingga mendukung sentimen positif terhadap saham-saham berkapitalisasi besar.
Konteks Pasar: IHSG Baru Saja Turun Sehari Sebelumnya
Sehari sebelumnya, pada Senin (7/9/2026), IHSG ditutup turun 16,81 poin ke level 6.619 akibat tekanan sentimen global.
Kenaikan tipis 0,30% pada Selasa pagi ini bisa dibaca sebagai:
Pemulihan teknikal setelah penurunan sehari sebelumnya.
Respons positif terhadap data makro (cadangan devisa) yang lebih baik dari kekhawatiran pasar.
Namun, tekanan eksternal masih disebut tinggi, terlihat dari penguatan tipis rupiah ke Rp17.640 per dolar AS yang masih berada di area rentan.
Implikasi bagi Investor dan Pelaku Pasar
Beberapa hal yang bisa dicatat investor dari berita ini:
Sentimen makro membaik, tapi belum “aman” sepenuhnya. Cadangan devisa kuat adalah bantalan penting, namun tekanan eksternal (global) masih menjadi faktor yang diawasi pasar.
Saham LQ45 jadi penopang. Penguatan indeks LQ45 menunjukkan bahwa saham-saham blue chip masih menjadi tumpuan utama di tengah ketidakpastian.
Rupiah dan suku bunga tetap krusial. Stabilitas rupiah yang dibantu cadangan devisa dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga BI, yang pada gilirannya berdampak pada valuasi saham, terutama sektor perbankan dan properti.

