Laba Antam (ANTM) Diproyeksi Tembus Rp9,2 Triliun, Target Harga Naik

 

Laba Antam (ANTM) Diproyeksi Tembus Rp9,2 Triliun, Target Harga Naik

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berpotensi mencatatkan kinerja keuangan yang lebih kuat sepanjang 2026. MNC Sekuritas menaikkan proyeksi laba bersih Antam menjadi Rp9,2 triliun dari sebelumnya Rp8,9 triliun.

Revisi tersebut turut diikuti dengan kenaikan target harga saham ANTM. Optimisme ini didukung oleh tambahan kuota produksi bijih nikel serta kontribusi fasilitas smelter grade alumina (SGA) Mempawah. Kedua faktor tersebut dinilai dapat menjadi penopang ketika bisnis emas menghadapi tekanan.

Laba Semester I Tumbuh 36%

Antam membukukan laba bersih Rp6,4 triliun pada semester I-2026. Angka tersebut meningkat 36% secara tahunan dan telah merealisasikan 71,4% dari proyeksi laba MNC Sekuritas untuk sepanjang 2026.

Realisasi itu juga setara dengan 62,3% dari konsensus pasar. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa Antam memiliki peluang untuk melampaui estimasi sebelumnya apabila kontribusi bisnis nikel dan alumina terus meningkat.

Namun, kinerja kuartal II-2026 mengalami perlambatan secara kuartalan. Laba bersih Antam tercatat Rp3 triliun, turun 12,5% dibandingkan kuartal I-2026, tetapi masih tumbuh 16,2% secara tahunan.

Penurunan tersebut terutama tercermin pada margin laba bersih. Net profit margin Antam turun menjadi 8,9% dari 11,6% pada kuartal sebelumnya akibat pelemahan harga emas.

Proyeksi Bisnis Emas Direvisi

MNC Sekuritas memangkas estimasi volume penjualan emas Antam sebesar 9,5% menjadi 36,2 ton. Sebelumnya, volume penjualan emas diproyeksikan mencapai 40 ton sepanjang 2026.

Meski demikian, penurunan volume tersebut sebagian diimbangi oleh kenaikan asumsi harga jual rata-rata emas. MNC Sekuritas meningkatkan asumsi average selling price emas Antam menjadi US$4.535 per ons dari sebelumnya US$4.205 per ons.

Dengan demikian, tekanan terhadap volume penjualan diharapkan dapat dikompensasi oleh harga emas yang lebih tinggi. Namun, pelemahan harga emas dan potensi penurunan permintaan tetap menjadi risiko terhadap pendapatan Antam pada semester II-2026.

Tambahan Kuota Nikel Jadi Penopang

Antam memperoleh tambahan kuota produksi bijih nikel sebesar 900.000 ton. Dengan tambahan tersebut, total kuota produksi bijih nikel Antam pada 2026 diperkirakan mencapai 19 juta ton.

Tambahan kuota ini berpotensi meredam dampak pelemahan harga bijih nikel yang terjadi sejak awal kuartal III-2026. Peningkatan volume produksi dapat membantu menjaga pendapatan, meskipun harga jual komoditas masih menghadapi tekanan.

Kinerja segmen nikel akan menjadi salah satu faktor penting bagi pencapaian target laba Antam. Jika volume produksi dan penjualan meningkat sesuai perkiraan, kontribusi nikel dapat membantu menyeimbangkan perlambatan pada bisnis emas.

SGA Mempawah Beroperasi Penuh

Selain nikel, fasilitas SGA Mempawah juga diperkirakan menjadi sumber pertumbuhan baru bagi Antam. Tingkat utilisasi fasilitas tersebut telah mencapai 100% pada Juni 2026.

SGA Mempawah ditargetkan memproduksi 700.000 ton sepanjang 2026. Pada semester I-2026, fasilitas tersebut telah mencatatkan produksi sekitar 350.000 ton.

Kontribusi SGA Mempawah penting karena dapat mengurangi ketergantungan Antam terhadap bisnis emas dan bijih nikel. Diversifikasi ini diharapkan membuat kinerja perusahaan lebih tahan terhadap fluktuasi harga komoditas.

Risiko dan Prospek Saham

Laba Antam (ANTM) Diproyeksi Tembus Rp9,2 Triliun, Target Harga Naik
(Foto Saham ANTM dari Google Finansial)
MNC Sekuritas menilai bisnis emas dan bijih nikel Antam masih menghadapi risiko tekanan pada semester II-2026. Risiko tersebut terutama berasal dari pelemahan harga komoditas dan penurunan volume penjualan emas.

Di sisi lain, tambahan kuota produksi nikel, kenaikan asumsi harga emas, serta utilisasi penuh SGA Mempawah menjadi katalis positif bagi kinerja perseroan. Kombinasi faktor tersebut mendorong MNC Sekuritas menaikkan proyeksi laba bersih Antam menjadi Rp9,2 triliun pada 2026.

Dengan kinerja semester I yang telah mencapai sebagian besar estimasi tahunan, prospek ANTM masih menarik untuk dicermati. Namun, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan harga emas, harga nikel, volume penjualan, dan kemampuan SGA Mempawah mempertahankan tingkat produksinya.
Next Post Previous Post