Produksi Mobil Nasional Tumbuh 13,4 Persen pada Januari-Agustus 2026
Produksi Kendaraan Naik 13,4 Persen
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyampaikan, produksi kendaraan bermotor di dalam negeri mencapai sekitar 860.000 unit selama Januari-Agustus 2026. Angka tersebut tumbuh 13,4 persen secara tahunan atau year-on-year.
Pernyataan itu disampaikan Faisol saat menghadiri pembukaan Automechanika Jakarta 2026 di PIK 2, Tangerang.
“Sektor otomotif selama Januari-Agustus 2026 sekali lagi menunjukkan kemampuannya kepada kita. Kinerjanya sangat positif, baik di pasar domestik maupun ekspor,” kata Faisol Riza.
Menurutnya, peningkatan produksi tersebut mencerminkan membaiknya aktivitas manufaktur otomotif nasional. Pertumbuhan produksi juga menjadi indikator bahwa industri kendaraan bermotor masih memiliki peran penting terhadap perekonomian Indonesia.
Penjualan Grosir Tumbuh 20 Persen
Selain produksi, distribusi kendaraan dari pabrikan ke jaringan diler atau wholesales juga mengalami peningkatan signifikan.
Penjualan grosir kendaraan tercatat tumbuh sekitar 20 persen pada periode Januari hingga Agustus 2026. Kenaikan ini menunjukkan adanya penguatan permintaan kendaraan di pasar domestik sekaligus meningkatnya aktivitas rantai distribusi otomotif.
“Penjualan grosir tumbuh 20 persen,” ujar Faisol.
Pertumbuhan tersebut turut memberikan dampak positif terhadap sektor pendukung, seperti industri komponen, logistik, pembiayaan kendaraan, perawatan, hingga layanan purnajual.
Ekspor Kendaraan dan Komponen Meningkat
Kinerja ekspor otomotif Indonesia juga menunjukkan tren positif. Pertumbuhan terjadi pada pengiriman kendaraan utuh, kendaraan dalam kondisi terurai, serta komponen otomotif.
Faisol menyebut ekspor Completely Built Up atau CBU tumbuh 0,9 persen. Sementara itu, ekspor Completely Knocked Down atau CKD meningkat 33 persen, sedangkan ekspor komponen otomotif tumbuh hingga 41 persen.
“Ekspor CBU tumbuh sebesar 0,9 persen. Ekspor CKD meningkat hingga mencapai 33 persen, sedangkan ekspor komponen meningkat sebesar 41 persen,” kata Faisol.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, ekspor mobil utuh atau CBU mencapai 337.372 unit selama Januari-Agustus 2026.
Toyota menjadi penyumbang terbesar dengan volume ekspor sebanyak 112.890 unit. Angka tersebut setara dengan 33,5 persen dari total ekspor CBU yang berasal dari sembilan merek kendaraan.
Ekspor CKD Capai 54.203 Set
Selain kendaraan utuh, pengiriman kendaraan dalam bentuk terurai atau CKD juga mencatatkan kinerja yang kuat.
Secara kumulatif, ekspor CKD mencapai 54.203 set sepanjang delapan bulan pertama 2026. Model pengiriman ini menunjukkan bahwa industri otomotif Indonesia tidak hanya berperan sebagai produsen kendaraan jadi, tetapi juga memiliki kapasitas dalam memasok kendaraan untuk dirakit di negara tujuan.
Sementara itu, ekspor komponen otomotif mencapai 129.806.959 bagian atau pieces ke berbagai pasar internasional.
Besarnya volume ekspor komponen memperlihatkan semakin luasnya keterlibatan industri dalam negeri dalam rantai pasok otomotif global. Kondisi ini sekaligus membuka peluang bagi pengembangan industri komponen lokal, termasuk usaha kecil dan menengah yang terlibat dalam proses produksi.
Indonesia Perkuat Posisi sebagai Basis Produksi
Faisol menilai, pertumbuhan sektor otomotif tersebut menegaskan posisi strategis Indonesia dalam peta industri otomotif dunia.
Menurutnya, Indonesia tidak semata-mata menjadi pasar penjualan kendaraan, tetapi juga berkembang sebagai pusat produksi, perakitan, dan pemasok komponen bagi pasar internasional.
“Hal ini menegaskan peran Indonesia sebagai basis produksi dan perakitan, bukan hanya sebagai penjual kendaraan jadi,” ujar Faisol.
Peningkatan produksi, penjualan domestik, serta ekspor diharapkan dapat terus berlanjut hingga akhir 2026. Pemerintah juga perlu menjaga iklim investasi, memperkuat industri komponen dalam negeri, serta meningkatkan daya saing tenaga kerja agar pertumbuhan otomotif nasional semakin berkelanjutan.
Dengan capaian tersebut, industri otomotif Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pasar ekspor dan memperdalam struktur manufaktur nasional.

