PT Timah Ramal Harga Timah Tetap Kuat Semester II 2026
PT Timah (Persero) Tbk memproyeksikan harga timah global bakal tetap kuat pada semester II-2026, didukung permintaan tinggi dari sektor AI dan semikonduktor serta defisit pasokan produksi. Manajemen memperkirakan harga bergerak di kisaran US$47.000–US$55.000 per ton hingga akhir tahun.
Proyeksi Harga dan Faktor Pendorong
Direktur Produksi dan Komersial PT Timah, Ilhamsyah Mahendra, menyatakan harga timah diperkirakan bertahan di level US$47.000–US$55.000 per ton pada semester kedua 2026. Kenaikan ini didorong oleh dua faktor utama:
Defisit produksi global: Terdapat kesenjangan sekitar 3% antara konsumsi dan produksi timah dunia.
Permintaan terus tumbuh: Industri kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor mencatat pertumbuhan permintaan sekitar 2–3%.
Ilhamsyah menjelaskan bahwa tidak ada ekspansi kapasitas produksi dari produsen timah di dunia, sehingga pasar terus tumbuh sementara pasokan terbatas. “Pasarnya tetap tumbuh terus tapi belum ada ekspansi kapasitas dari sisi produsen,” ujarnya dalam paparan publik, Kamis (10/9/2026).
Permintaan Global dan Peluang PT Timah
Hingga 30 Juni 2026, permintaan global timah mencapai 179.000 ton, menciptakan defisit antara konsumsi dan produksi. Kondisi ini menjadi tantangan bagi produsen untuk mengejar ketertinggalan, namun sekaligus peluang bagi PT Timah karena harga diperkirakan terus menguat.
Ilhamsyah menambahkan bahwa faktor permintaan ini menjadi katalis utama pertumbuhan PT Timah di masa mendatang. Data dari BRIDS Research menunjukkan pasar global masih defisit 5.720 ton dengan produksi 173.536 ton versus konsumsi 179.256 ton.
Dorongan Industrialisasi dan Hilirisasi
Meski permintaan domestik masih rendah di kisaran 4.000–5.000 ton per tahun, Ilhamsyah menekankan perlunya dorongan berkelanjutan untuk meningkatkan konsumsi lokal. Ia menyarankan pemerintah tidak hanya fokus pada hilirisasi, tetapi juga membangun industrialisasi mineral komoditas timah.
“Bukan hanya hilirisasi yang perlu diekspansi melainkan industrialisasi mineral komoditas timah juga harus dibangun pemerintah,” tutur Ilhamsyah.
Contoh Industrialisasi yang Dapat Dikembangkan
Ilhamsyah mencontohkan beberapa industri yang dapat meningkatkan nilai tambah timah di dalam negeri:
Pembangunan pabrik laptop
Industri semikonduktor
Produksi papan sirkuit cetak (PCB)
Manufaktur handphone
“Dengan begitu, ketika kita melakukan hilirisasi atau peningkatan konsumsi lokal timah, nilai tambahnya bisa dirasakan di dalam negeri saat industrialisasi didorong bersamaan dengan hilirisasi,” pungkas Ilhamsyah.
Konteks Pasar Terkini
Harga timah di London Metal Exchange (LME) pada awal September 2026 berada di level US$54.862–US$55.250 per ton, mendekati kisaran atas proyeksi PT Timah. Pada Agustus 2026, transaksi timah di Jakarta Futures Exchange (JFX) tembus Rp4 triliun, menunjukkan aktivitas perdagangan yang tinggi.
Secara fundamental, PT Timah membukukan laba bersih Rp2,71 triliun pada Semester I 2026, melonjak 805% secara tahunan, dengan harga rata-rata LME 1H26 mencapai US$50.319 per ton.

