US Treasury Tembus 5 Persen, Rupiah Kembali Melemah
Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan setelah imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury tenor 10 tahun menembus level 5 persen. Pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, imbal hasil tersebut berada di kisaran 5,12 persen.
Kenaikan imbal hasil US Treasury turut diikuti penguatan indeks dolar Amerika Serikat atau USD Index ke level 101,15. Kondisi ini meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan tekanan jual pada obligasi Amerika Serikat menunjukkan pelaku pasar masih mengharapkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi. Situasi tersebut juga mencerminkan bahwa kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed, dinilai belum sepenuhnya mampu meredam tekanan di pasar keuangan.
Rupiah Melemah
| (Foto Kurs Dolar-Rupiah dari Bank BNI) |
Risiko Geopolitik
Menurut Gunawan, tekanan terhadap pasar keuangan domestik masih dapat meningkat apabila tensi geopolitik global memburuk. Risiko lainnya muncul dari kemungkinan semakin kuatnya sinyal kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS.
Perkembangan tersebut berpotensi memicu koreksi di pasar keuangan Indonesia. Selain rupiah, tekanan juga dapat menjalar ke pasar saham dan komoditas, termasuk emas.
IHSG pada sesi pembukaan turut bergerak melemah ke level 6.364. Pelemahan ini sejalan dengan koreksi mayoritas bursa saham di kawasan Asia.

