BI Perkuat Pengendalian Inflasi Pangan dan Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia (BI) memperkuat langkah pengendalian inflasi pangan sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah volatilitas ekonomi global. Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa inflasi pangan bergejolak (volatile food) mencapai 5,03 persen secara tahunan pada September 2026, melampaui batas atas sasaran inflasi BI sebesar 3,5 persen.
Tekanan Inflasi Pangan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi keseluruhan Indonesia pada September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan dan 2,17 persen secara tahunan sejak awal tahun. Sementara itu, inflasi inti masih berada pada level 2,8 persen, yang menunjukkan kondisi perekonomian secara umum masih terkendali.
Perhatian utama BI tertuju pada kelompok harga bergejolak, terutama pangan. Kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi menjadi salah satu penyumbang tekanan inflasi pada September. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mencatat inflasi bulanan sebesar 0,88 persen dengan kontribusi 0,26 poin persentase terhadap inflasi umum.
Destry menegaskan bahwa isu kenaikan harga pangan telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan pada Senin, 19 Oktober 2026. BI juga berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk menekan inflasi pangan bergejolak agar kembali ke koridor sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen.
“Persoalan ini kami laporkan dan kami juga berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian mengenai cara menjaga inflasi harga pangan yang bergejolak,” ujar Destry Damayanti, seperti dikutip dalam pemberitaan terkait.
Rupiah Hadapi Tekanan Global
Di sisi lain, BI juga berfokus menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan internasional. Destry menyebut volatilitas global masih tinggi, terutama akibat kemungkinan suku bunga Amerika Serikat bertahan lebih lama pada level tinggi, sementara inflasi AS masih berada di atas target bank sentral negara tersebut.
Meski menghadapi tekanan tersebut, Destry menyatakan pergerakan rupiah dalam dua hari terakhir relatif dapat dijaga. Ia menilai kondisi tersebut juga sejalan dengan dinamika sejumlah negara berkembang yang menghadapi tekanan serupa dari pasar global.
“Namun, selama dua hari terakhir, stabilitas rupiah dapat kami jaga sehingga pergerakannya sedikit melambat. Kondisi ini juga sejalan dengan beberapa negara berkembang. Intinya, Bank Indonesia akan selalu bersiaga di pasar,” ujar Destry.
Strategi BI di Pasar Keuangan
Untuk menjaga nilai tukar, BI tetap hadir di pasar melalui intervensi transaksi spot serta instrumen derivatif, termasuk Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF). Langkah ini dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
BI juga mengandalkan insentif biaya lindung nilai yang telah berjalan sejak akhir Juni 2026. Menurut Destry, kebijakan tersebut berhasil menarik aliran dana ke pasar keuangan domestik melalui transaksi swap dan DNDF senilai sekitar 8 miliar hingga 9 miliar dolar AS.
“Kami juga memberikan insentif biaya lindung nilai yang sudah berjalan sejak akhir Juni lalu. Hingga saat ini, langkah tersebut telah mendatangkan aliran dana melalui transaksi swap maupun DNDF senilai sekitar 8 miliar hingga 9 miliar dolar AS,” jelas Destry.
Fokus Kebijakan ke Depan
Ke depan, BI menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar keuangan dan mengoptimalkan seluruh instrumen yang tersedia untuk menjaga stabilitas rupiah. Pada saat yang sama, pengendalian inflasi pangan tetap menjadi prioritas melalui koordinasi erat dengan Kementerian Pertanian.
Dengan inflasi pangan yang masih di atas sasaran, pemerintah dan BI dituntut mempercepat langkah pengendalian pasokan serta distribusi komoditas. Langkah tersebut penting agar tekanan harga tidak semakin menekan daya beli masyarakat dan tetap menjaga stabilitas ekonomi domestik.


