BI Perkuat Stabilisasi Rupiah setelah Dolar AS Sentuh Rp 18.054
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp 18.000 terhadap rupiah pada Jumat, 16 Oktober 2026. Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus hadir di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas rupiah dan memastikan pergerakannya tetap selaras dengan fundamental ekonomi.
Tekanan terhadap rupiah
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip Detik Finance, dolar AS berada di level Rp 18.054 pada 16 Oktober 2026, menguat 116 poin atau 0,65% dari perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh arus keluar modal dari aset portofolio domestik serta meningkatnya sentimen risk-off global yang memperkuat dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan bahwa pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,28%.
Penopang sektor eksternal
Di tengah tekanan nilai tukar, posisi cadangan devisa Indonesia masih terjaga. BI mencatat cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026.
“Bank Indonesia berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik,” ujar Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan resminya pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Langkah intervensi BI
BI melanjutkan stabilisasi nilai tukar melalui sejumlah instrumen, antara lain:
Transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.
Transaksi spot di pasar domestik.
Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain intervensi nilai tukar, bank sentral juga akan menjaga kecukupan likuiditas serta mengelola struktur suku bunga di pasar uang. BI menyatakan akan terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan korporasi, pelaku pasar, dan pemangku kepentingan terkait secara intensif.
Dolar AS di pasar global
![]() |
| (Foto Kurs Dolar-Rupiah dari TradingEconomics) |



