Bitcoin Berpeluang Menuju US$97.000 setelah Data Pekerjaan AS Melemah

Bitcoin Berpeluang Menuju US$97.000 setelah Data Pekerjaan AS Melemah

Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan pelemahan. Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve atau The Fed tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, sehingga membuka peluang bagi aset berisiko seperti kripto untuk melanjutkan pemulihan.

Menurut analisis 21Shares, Bitcoin perlu menembus level resistensi US$87.000 untuk membuka jalan menuju target berikutnya di US$90.000 dan US$97.000.

Data Pekerjaan AS Tekan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa perekonomian hanya menambah 29.000 pekerjaan pada September. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%.

Data pekerjaan untuk Juli dan Agustus juga direvisi turun dengan total sekitar 60.000 pekerjaan. Pelemahan ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum setelah sebelumnya tetap kuat di tengah kebijakan moneter ketat.

Situasi tersebut mengurangi kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga. Menurut Matt Mena, ahli strategi riset kripto senior di 21Shares, peluang kenaikan suku bunga mingguan turun lebih dari 35%. Pasar bahkan mulai memperkirakan bahwa suku bunga dapat dipertahankan hingga 2027.

US$87.000 Menjadi Level Penting

Bitcoin Berpeluang Menuju US$97.000 setelah Data Pekerjaan AS Melemah
(Foto Harga Bitcoin dari TradingView)
Bitcoin sempat menembus kisaran US$85.000–US$86.000 dan menguji level US$87.000. Namun, area tersebut masih menjadi hambatan penting karena tekanan jual meningkat ketika harga mendekati level tersebut.

Mena menilai ketidakpastian ekonomi, termasuk laporan ketenagakerjaan yang lemah, dapat menjadi katalis bagi Bitcoin untuk menembus resistensi US$87.000.

“Data makroekonomi yang lebih tidak pasti dapat menjadi katalis untuk menembus resistensi ini dan membuka jalan menuju level resistensi berikutnya: US$90.000 dan US$97.000.”

Apabila Bitcoin berhasil menembus dan bertahan di atas US$87.000, target US$90.000 dapat menjadi tujuan jangka pendek. Setelah itu, level US$97.000 berpotensi menjadi sasaran berikutnya.

Sebaliknya, kegagalan menembus resistensi tersebut dapat membuat Bitcoin kembali bergerak mendatar atau menguji area dukungan yang lebih rendah. Pergerakan harga juga masih sensitif terhadap data inflasi, imbal hasil obligasi AS, serta arah kebijakan The Fed.

Arus Dana ETF Ikut Mendukung

Selain faktor makroekonomi, permintaan dari produk investasi institusional turut mendukung pemulihan Bitcoin. Analis memperkirakan arus masuk bersih ke ETF Bitcoin mencapai sekitar US$7 miliar pada kuartal ketiga.

Angka tersebut disebut sebagai salah satu kinerja kuartalan terkuat sejak kuartal ketiga 2025. Namun, arus dana harian masih bergerak tidak merata. ETF Bitcoin mencatat arus masuk bersih sekitar US$102,7 juta pada 1 Oktober, setelah sebelumnya mengalami arus keluar sebesar US$148,7 juta pada 30 September.

Aliran dana tersebut menunjukkan bahwa investor institusional masih memiliki minat terhadap Bitcoin, meskipun pasar menghadapi volatilitas tinggi. Pembelian berkelanjutan dari investor besar dapat membantu menjaga harga ketika tekanan jual meningkat.

Prospek Ethereum dan Solana

Optimisme analis tidak hanya berlaku untuk Bitcoin. Matt Mena juga memperkirakan Ethereum berpotensi menembus US$3.000 dan bergerak menuju US$4.000.

Sementara itu, Solana diproyeksikan dapat kembali ke level US$125 sebelum mengarah ke target US$140. Meski demikian, arus dana untuk aset kripto lain belum sepenuhnya konsisten.

Pada 1 Oktober, ETF Ethereum tercatat mengalami arus keluar sekitar US$55,37 juta, sedangkan ETF Solana mengalami arus keluar sekitar US$5,91 juta. Ethereum juga mencatat arus keluar selama tiga sesi berturut-turut.

Risiko yang Perlu Diperhatikan

Pelemahan data pekerjaan memang meningkatkan peluang kebijakan moneter yang lebih longgar, tetapi bukan berarti Bitcoin akan langsung bergerak naik tanpa hambatan.

Beberapa faktor yang masih dapat menekan harga meliputi:

Inflasi AS yang kembali meningkat.

Imbal hasil obligasi Treasury yang tetap tinggi.

Penguatan dolar AS.

Arus keluar dari ETF kripto.

Kegagalan Bitcoin bertahan di atas US$87.000.

Aksi ambil untung setelah kenaikan harga.

Bitcoin merupakan aset yang sangat sensitif terhadap likuiditas. Jika pasar kembali memperkirakan suku bunga tinggi dalam waktu lama, aset berisiko seperti kripto dapat menghadapi tekanan.

Penutup

Data pekerjaan AS yang lebih lemah telah mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed dan memberikan dukungan bagi Bitcoin. Dengan level US$87.000 sebagai resistensi utama, keberhasilan menembus area tersebut dapat membuka peluang menuju US$90.000 dan kemudian US$97.000.

Namun, target tersebut masih berupa proyeksi analis, bukan kepastian harga. Investor perlu memperhatikan data inflasi, keputusan suku bunga The Fed, pergerakan ETF, serta kemampuan Bitcoin mempertahankan level dukungan sebelum mengambil keputusan investasi. Semua investasi mengandung risiko kerugian, dan kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.


Next Post Previous Post