Harga Batubara Berpotensi Pulihkan Emiten Alat Berat

 

Harga Batubara Berpotensi Pulihkan Emiten Alat Berat

Kenaikan harga batubara global membuka peluang perbaikan bagi emiten distributor alat berat. Namun, dampaknya terhadap penjualan unit baru diperkirakan belum signifikan hingga akhir 2026 karena perusahaan tambang masih berhati-hati dalam berinvestasi dan menunggu kepastian kuota produksi.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, menilai harga batubara yang membaik serta permintaan impor dari India berpotensi mendukung margin perusahaan alat berat yang melayani sektor pertambangan. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan utilisasi armada dan memperkuat kemampuan perusahaan tambang untuk membiayai belanja modal.

Meski demikian, perbaikan operasional belum tentu langsung diikuti pembelian unit baru. Pelaku usaha masih mempertimbangkan prospek pasar dan kepastian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan. “Dampak positif yang lebih besar akan terlihat pada 2027, jika harga batubara bertahan di level tinggi,” kata Adrian, Minggu (11/10/2026).

Kepastian RKAB Jadi Penentu

Harga Batubara Berpotensi Pulihkan Emiten Alat Berat
(Foto Harga Batubara Dunia dari TradingEconomics)
Pemerintah menetapkan kuota produksi batubara sekitar 600 juta ton untuk 2026, lebih rendah dibandingkan alokasi 2025 sebesar 1,2 miliar ton. Pembatasan ini berpotensi membuat perusahaan tambang menunda pembelian alat berat baru. Meski begitu, terdapat indikasi pelonggaran kuota bagi sejumlah perusahaan.

PT United Tractors Tbk (UNTR), misalnya, mendapat kenaikan kuota produksi dari 7,4 juta ton pada pertengahan Juli menjadi 12,4 juta ton pada Agustus 2026. Namun, belum meratanya kepastian persetujuan RKAB tetap menjadi risiko bagi industri.

Selama kuota produksi belum jelas, perusahaan tambang cenderung memprioritaskan kebutuhan operasional yang mendesak. Karena itu, kinerja emiten alat berat diperkirakan tumbuh moderat pada 2026, dengan bisnis purna jual menjadi salah satu penopang saat penjualan unit baru belum pulih kuat.

Penjualan Unit Besar Tertekan

Tekanan permintaan terlihat pada bisnis alat berat UNTR. Hingga Mei 2026, sektor pertambangan menyumbang 43% dari penjualan alat berat Komatsu yang didistribusikan UNTR. Porsi tersebut turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 65%.

Penjualan kategori alat berat berukuran besar atau big machine juga melemah. Sepanjang Januari–Agustus 2026, penjualan kategori ini turun 49% menjadi 436 unit. Dampaknya cukup besar karena nilai satu unit berukuran besar dapat mencapai 10–15 kali lipat harga unit kecil.

Di sisi lain, aktivitas tambang mulai menunjukkan tanda perbaikan. Analis Republik Investor, Muhammad Syaiful Ridwan, mencatat volume pemindahan lapisan penutup (overburden removal) UNTR pada Agustus 2026 mencapai 98,4 juta bank cubic meter (bcm), naik 9% dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan aktivitas tersebut dapat menjadi sinyal awal meningkatnya kebutuhan alat berat. Namun, kontraktor biasanya terlebih dahulu mengoptimalkan kembali armada yang sebelumnya tidak digunakan sebelum membeli unit baru. Dengan demikian, kenaikan utilisasi armada berpeluang lebih cepat mendorong permintaan suku cadang dan layanan purna jual.

Peluang Pemulihan pada 2027

Pemulihan yang lebih kuat diperkirakan berpeluang terjadi pada 2027, terutama jika harga batubara tetap tinggi dan kepastian RKAB membaik. Kombinasi tersebut dapat membuka ruang bagi perusahaan tambang untuk kembali meningkatkan pembelian alat berat baru.

Untuk perdagangan saham, Syaiful merekomendasikan beli saham UNTR dengan target harga Rp26.675 per saham. Ia menilai UNTR berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan aktivitas pertambangan dan kuota produksi, didukung eksposur perusahaan pada distribusi alat berat serta jasa kontraktor tambang.

Next Post Previous Post