IHSG Hari Ini, Kamis 29 Oktober ke Level 5.142

IHSG Hari Ini, Kamis 29 Oktober ke Level 5.142

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup sesi I perdagangan Kamis (29/10/2026) di level 5.142,82, terkoreksi 139,49 poin atau 2,64% dari penutupan sebelumnya di 5.282,31. Pelemahan ini terjadi meski indeks sempat membuka menguat pada pagi hari.

Pergerakan Sesi I

IHSG Hari Ini, Kamis 29 Oktober ke Level 5.142
(Foto IHSG dari Google Finansial)
IHSG dibuka pada pukul 09.00 WIB di level 5.305,20, naik 0,43%, lalu sempat mencetak rekor tertinggi intraday di 5.320,90. Namun, penguatan itu tidak bertahan; tekanan jual muncul hanya beberapa menit setelah pembukaan dan membawa indeks turun tajam dalam sekitar satu jam pertama perdagangan.

Sebelum pukul 10.00 WIB, IHSG sudah menembus area 5.200. Setelah itu, indeks bergerak relatif mendatar pada kisaran 5.140–5.180, dengan level terendah hari ini tercatat di 5.135,52. Pada akhir sesi I, posisi IHSG berada dekat dengan titik terendah tersebut.

Aktivitas Perdagangan

Hingga akhir sesi I, volume transaksi tercatat 141,84 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp5.663,48 miliar. Angka ini menunjukkan tekanan jual berlangsung dalam aktivitas pasar yang cukup likuid.

Pada awal perdagangan, tekanan juga terlihat dari lebar pelemahan saham: 374 saham turun, sementara 209 saham naik dan 380 saham stagnan. Kondisi ini menandakan pelemahan tidak hanya terjadi pada saham berkapitalisasi besar, tetapi cukup luas di pasar.

Sektor dan Saham Penekan

Sektor infrastruktur menjadi beban terbesar pada awal sesi, turun 1,35%, disusul sektor perindustrian, barang konsumen non-primer, kesehatan, keuangan, serta properti dan real estat.

Di antara saham LQ45, Indosat (ISAT) tercatat melemah 5,1%, Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) turun 3,24%, dan Astra International (ASII) turun 2,2%. Sebaliknya, GoTo (GOTO) menjadi salah satu penggerak penguatan dengan kenaikan 4,17%.

Sentimen yang Menekan

Meski The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00%, keputusan tersebut tidak bulat dan pasar masih menilai peluang kenaikan suku bunga berikutnya cukup besar. Kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun ke 5,042% juga berpotensi menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham emerging market seperti Indonesia.

Pasar juga menunggu rilis inflasi PCE AS untuk September, yang menjadi acuan penting arah kebijakan moneter The Fed. Di sisi domestik, lonjakan imbal hasil SBN serta ketidakpastian geopolitik dan harga energi turut menjadi faktor yang membayangi pergerakan IHSG dan rupiah.

Sorotan Sesi II

Secara teknikal, posisi IHSG di area 5.142 berada dekat dengan zona support yang sebelumnya disebut para analis di kisaran 5.118–5.182. Selama indeks bertahan di atas area tersebut, potensi technical rebound masih terbuka; namun, penembusan ke bawahnya dapat memperpanjang tekanan jual pada sesi II.

Investor perlu memantau arus dana asing, pergerakan imbal hasil SBN, serta reaksi pasar terhadap data inflasi PCE AS dan keputusan ECB yang akan dirilis sore ini.

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan data pasar yang tersedia hingga akhir sesi I perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, dan hanya dimaksudkan sebagai informasi umum, bukan sebagai rekomendasi jual atau beli saham.

Next Post Previous Post