IHSG Koreksi 0,83%, Sektor Energi dan Inflasi Jadi Sorotan Utama
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi I Kamis (1/10/2026) di zona merah, turun 50,44 poin atau 0,83 persen ke level 6.020,70.
Penurunan ini terutama dipicu oleh sentimen negatif dari harga minyak dunia yang tetap tinggi dan data inflasi domestik yang mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia (BI).
Tekanan dari Harga Minyak Dunia
| (Foto Harga Minyak Dunia dari TradingEconomics) |
Inflasi September 2026: 0,30 Persen Bulanan, 3,28 Persen Tahunan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September 2026 sebesar 0,30 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Angka ini mendorong inflasi tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 3,28 persen, mendekati batas atas sasaran BI sebesar 3,5 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan, dengan cabai rawit dan cabai merah sebagai pendorong utama.
Inflasi inti juga diperkirakan meningkat menjadi sekitar 3 persen secara tahunan, dari 2,92 persen di Agustus. Jika tekanan harga energi berlanjut hingga tahun depan, inflasi berpotensi bertahan di level tinggi, yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga BI.
Faktor Penahan: Manufaktur dan Neraca Perdagangan
Meski tertekan, IHSG tidak jatuh lebih dalam karena ada faktor penahan dari dalam negeri. Pemulihan aktivitas sektor manufaktur nasional dan capaian neraca perdagangan yang tetap surplus menjadi penopang utama.
Surplus perdagangan dan penguatan manufaktur memberikan sinyal bahwa fundamental ekonomi domestik masih relatif solid di tengah gejolak eksternal.
Pergerakan Saham Sesi I
| (Foto Saham MGNA dari Google Finansial) |
Implikasi bagi Investor
Kondisi saat ini menuntut investor untuk lebih selektif. Dengan inflasi yang mendekati batas atas sasaran BI dan harga minyak yang masih tinggi, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat tetap ada. Namun, fundamental domestik yang didukung oleh surplus perdagangan dan pemulihan manufaktur dapat menjadi penahan koreksi lebih dalam, terutama jika sentimen eksternal mulai mereda.
Bagi investor di Jakarta dan wilayah lainnya, memantau perkembangan harga minyak, data inflasi lanjutan, serta kebijakan BI ke depan menjadi kunci dalam mengambil keputusan investasi di pasar saham.

