IHSG Koreksi 0,83%, Sektor Energi dan Inflasi Jadi Sorotan Utama

IHSG Koreksi 0,83%, Sektor Energi dan Inflasi Jadi Sorotan Utama

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi I Kamis (1/10/2026) di zona merah, turun 50,44 poin atau 0,83 persen ke level 6.020,70. 

Penurunan ini terutama dipicu oleh sentimen negatif dari harga minyak dunia yang tetap tinggi dan data inflasi domestik yang mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia (BI).

Tekanan dari Harga Minyak Dunia

IHSG Koreksi 0,83%, Sektor Energi dan Inflasi Jadi Sorotan Utama
(Foto Harga Minyak Dunia dari TradingEconomics)
Harga minyak mentah dunia masih berada di kisaran tinggi, dengan Brent sekitar US$96,92 per barel dan WTI sekitar US$89,18 per barel pada Kamis (1/10/2026). 

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk proses negosiasi yang alot antara Amerika Serikat dan Iran, menjadi salah satu faktor yang menahan harga minyak tetap elevated. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global dan berpotensi mendorong kebijakan moneter lebih ketat dalam waktu lebih lama.

Di sisi lain, kenaikan tak terduga stok minyak mentah AS dan pemulihan ekspor dari kawasan Teluk sedikit meredakan kekhawatiran pasokan, namun risiko geopolitik masih membayangi pergerakan harga. Bagi Indonesia, harga energi yang tinggi dikhawatirkan dapat membebani APBN melalui subsidi dan menaikkan ekspektasi suku bunga BI.

Inflasi September 2026: 0,30 Persen Bulanan, 3,28 Persen Tahunan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September 2026 sebesar 0,30 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Angka ini mendorong inflasi tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 3,28 persen, mendekati batas atas sasaran BI sebesar 3,5 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan, dengan cabai rawit dan cabai merah sebagai pendorong utama.

Inflasi inti juga diperkirakan meningkat menjadi sekitar 3 persen secara tahunan, dari 2,92 persen di Agustus. Jika tekanan harga energi berlanjut hingga tahun depan, inflasi berpotensi bertahan di level tinggi, yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga BI.

Faktor Penahan: Manufaktur dan Neraca Perdagangan

Meski tertekan, IHSG tidak jatuh lebih dalam karena ada faktor penahan dari dalam negeri. Pemulihan aktivitas sektor manufaktur nasional dan capaian neraca perdagangan yang tetap surplus menjadi penopang utama. 

Surplus perdagangan dan penguatan manufaktur memberikan sinyal bahwa fundamental ekonomi domestik masih relatif solid di tengah gejolak eksternal.

Pergerakan Saham Sesi I

IHSG Koreksi 0,83%, Sektor Energi dan Inflasi Jadi Sorotan Utama
(Foto Saham MGNA dari Google Finansial)
Pada perdagangan sesi I, sejumlah saham mencatat penguatan tertinggi, antara lain MGNA, AKKU, CCSI, BLTZ, dan SAFE. 

Sebaliknya, saham-saham seperti SOSS, FORU, ALKA, KREN, dan GOTO mengalami penurunan terdalam dan menjadi beban indeks. Saham-saham besar seperti GOTO, DCII, TLKM, dan AMMN juga disebut menekan IHSG pada sesi ini.

Implikasi bagi Investor

Kondisi saat ini menuntut investor untuk lebih selektif. Dengan inflasi yang mendekati batas atas sasaran BI dan harga minyak yang masih tinggi, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat tetap ada. Namun, fundamental domestik yang didukung oleh surplus perdagangan dan pemulihan manufaktur dapat menjadi penahan koreksi lebih dalam, terutama jika sentimen eksternal mulai mereda.

Bagi investor di Jakarta dan wilayah lainnya, memantau perkembangan harga minyak, data inflasi lanjutan, serta kebijakan BI ke depan menjadi kunci dalam mengambil keputusan investasi di pasar saham.

Next Post Previous Post