Investor Lokal Belanja Saham BBCA Rp 4,36 Triliun Saat Asing Lepas Aset
Investor domestik diduga memanfaatkan tekanan pasar pasca pengumuman MSCI untuk mengakumulasi sejumlah saham unggulan. Dalam periode 16–23 Oktober 2026, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat pembelian bersih (net buy) terbesar senilai Rp 4,36 triliun, sementara investor asing justru melakukan penjualan bersih Rp 5,22 triliun pada saham tersebut.
Data yang mengacu pada aplikasi Stockbit Sekuritas menunjukkan pola serupa pada dua emiten besar lainnya. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membukukan net buy Rp 1,33 triliun dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 1,31 triliun, padahal investor asing mencatat net sell masing-masing Rp 3,26 triliun dan Rp 663 miliar.
Pemicu Tekanan Pasar
Tekanan tersebut berawal dari pengumuman MSCI mengenai konsultasi usulan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging markets menjadi standalone markets. Pengumuman itu memicu aksi jual dan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 11,57% ke level 5.185.
Setelah penurunan tajam tersebut, IHSG berangsur pulih dan ditutup pada level 5.439 pada 23 Oktober 2026. MSCI membuka masa konsultasi bagi pelaku pasar hingga 30 April 2027, sementara keputusan akhir mengenai status pasar saham Indonesia dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
BCA Jalankan Buyback
![]() |
| (Foto Saham BBCA dari Google Finansial) |
Sinyal Kepercayaan
Manajemen BCA menilai program buyback mencerminkan keyakinan perseroan terhadap fundamental bisnisnya, sekaligus menjadi upaya mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia. Perseroan menegaskan tetap berkomitmen menjalankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik serta mematuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku.
Perbedaan arah transaksi antara investor domestik dan asing pada BBCA, BBRI, serta TLKM mengindikasikan pelaku dalam negeri menjadi pembeli utama saham-saham berkapitalisasi besar tersebut.



