Kinerja CPO Menggeliat, Laba TAPG Sembilan Bulan Capai Rp 3,51 Triliun

Kinerja CPO Menggeliat, Laba TAPG Sembilan Bulan Capai Rp 3,51 Triliun

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) membukukan laba bersih Rp 3,51 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 30,8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut didorong oleh naiknya volume penjualan CPO, harga jual rata-rata yang lebih tinggi, serta pertumbuhan biaya operasional yang lebih terkendali.

Pencapaian itu setara dengan 85,1% dari proyeksi KB Valbury Sekuritas dan 85% dari estimasi konsensus analis. Meski demikian, pendapatan TAPG sebesar Rp 9,45 triliun dinilai masih sejalan dengan ekspektasi awal.

Penggerak Utama Laba

Analis KB Valbury Sekuritas Adolf Setiadi menyebut pertumbuhan laba TAPG berasal dari kombinasi peningkatan penjualan dan pengendalian biaya. Pada kuartal III 2026, volume penjualan CPO perusahaan mencapai 187.500 ton, naik 20% secara tahunan.

Harga jual rata-rata (average selling price/ASP) CPO juga meningkat 9,5% menjadi Rp 15.565 per kilogram. Di sisi biaya, pengeluaran pupuk turun 23% karena sebagian kegiatan pemupukan tertunda akibat kondisi cuaca kering.

“Secara keseluruhan, volume yang lebih tinggi, harga yang lebih baik, dan pertumbuhan biaya yang lebih lambat mendorong pelampauan kinerja sembilan bulan pertama, dengan kuartal ketiga saja menyumbang 42% dari laba bersih sembilan bulan pertama,” ujar Adolf, seperti dikutip dalam risetnya pada 29 Oktober 2026.

Dukungan permintaan juga datang dari penerapan program biodiesel B50 sejak Juli 2026. Kebijakan tersebut berjalan seiring dengan harga minyak nabati global yang masih relatif kuat, sehingga membantu menjaga performa penjualan CPO.

Biaya Pupuk Berpotensi Naik

Meskipun kinerja sembilan bulan pertama terbilang kuat, pertumbuhan laba TAPG diperkirakan melambat pada kuartal IV 2026. Hal ini terutama disebabkan oleh meningkatnya kembali aktivitas pemupukan.

Berdasarkan informasi dari manajemen, pengeluaran pupuk diperkirakan naik pada kuartal IV 2026 dan berlanjut hingga kuartal I 2027. Adolf menilai penurunan beban pupuk selama sembilan bulan pertama lebih mencerminkan efek waktu, bukan penghematan biaya yang bersifat struktural.

“Kami memahami dari perusahaan bahwa aplikasi pupuk akan meningkat pada kuartal keempat 2026 dan kuartal pertama 2027, sehingga kami memandang sebagian dari keuntungan margin sembilan bulan pertama sebagai efek waktu daripada penghematan struktural,” jelasnya.

Selain pupuk, tingginya harga tandan buah segar (TBS) dari pihak ketiga juga berpotensi menambah tekanan biaya operasional perusahaan ke depan.

Prospek Dividen dan Rekomendasi

Kinerja CPO Menggeliat, Laba TAPG Sembilan Bulan Capai Rp 3,51 Triliun
(Foto Saham TAPG dari Google Finansial)
Meski menghadapi potensi kenaikan biaya, prospek fundamental TAPG tetap dinilai menjanjikan. Dukungan datang dari volume penjualan CPO, harga minyak nabati global, serta konsistensi perusahaan dalam menghasilkan laba.

TAPG juga menarik dari sisi dividen. Untuk tahun buku 2026, dividend yield diproyeksikan mencapai 10,4% dengan payout ratio sebesar 85%.

Mempertimbangkan visibilitas laba, prospek dividen, dan tren harga CPO yang masih mendukung, KB Valbury Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk saham TAPG. Target harga ditetapkan pada Rp 2.500 per saham.

 

Next Post Previous Post