Pemerintah Targetkan PLTS 100 GWp untuk Percepat Transisi Energi Nasional

Pemerintah Targetkan PLTS 100 GWp untuk Percepat Transisi Energi Nasional

Pemerintah menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) hingga 2029. Program ini diarahkan untuk mempercepat transisi energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi fosil.

Listrik Jadi Kebutuhan Strategis

Direktur Program Transformasi Sistem Energi Institut for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo, menilai penambahan kapasitas listrik nasional semakin penting, terutama ketika harga energi fosil terdorong naik oleh gejolak geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, elektrifikasi bukan sekadar menambah pembangkit, tetapi juga memperluas penggunaan listrik di berbagai sektor.

Ia menjelaskan bahwa elektrifikasi dapat meningkatkan efisiensi energi. Efisiensi yang lebih tinggi, lanjut Deon, berpotensi menaikkan produktivitas dan memberi nilai tambah bagi penggunaan energi di industri maupun sektor lainnya.

Permintaan Listrik Naik Hampir Dua Kali

Laporan IESR memproyeksikan kebutuhan listrik nasional meningkat dari sekitar 440 Terawatt-hour (TWh) pada 2025 menjadi sekitar 855 TWh pada 2035. Artinya, permintaan listrik dapat tumbuh hampir dua kali lipat dalam satu dekade.

Kenaikan tersebut dipicu oleh berbagai sektor, mulai dari industri, rumah tangga, transportasi, pusat data, hingga rencana ekspor listrik. Deon menekankan bahwa strategi industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi harus diimbangi ketersediaan pasokan listrik yang memadai.

“Jadi ini adalah memang kebutuhan sebenarnya kalau memang kita mau target permintaan adalah salah satu strateginya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi itu adalah industrialisasi, elektrifikasi, dan sebagainya, ya harus didukung dengan ketersediaan pemenuhan permintaan listrik yang cukup tinggi juga,” ujar Deon Arinaldo.

Dampak Ekonomi Elektrifikasi

Direktur INDEF Green Transition Initiative, Imaduddin Abdullah, memperkirakan skenario elektrifikasi berbiaya paling efisien (least cost electrification) dapat memberikan kontribusi sekitar US$160 miliar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia selama periode 2025–2035.

Kontribusi tersebut diperkirakan setara 8–10 persen dari PDB dan menjadi salah satu penopang target pertumbuhan ekonomi nasional. Imaduddin juga mengaitkan elektrifikasi dengan pengurangan beban fiskal akibat impor minyak.

“22% kebutuhan demand minyak ini akan berkurang di tahun 2035 kalau kita menggunakan tadi ya skenario dari elektrifikasi,” ujar Imaduddin Abdullah.

PLTS Sebagai Pilar Transisi Energi

Target PLTS 100 GWp hingga 2029 diposisikan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi dan mencapai target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Program tersebut direncanakan dibangun bertahap, dengan kombinasi PLTS tersebar dan PLTS terpusat.

Namun, IESR menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari peluncuran atau peletakan batu pertama proyek. Yang lebih penting adalah berapa banyak kapasitas PLTS yang benar-benar dibangun, tersambung ke jaringan, dan mampu memasok listrik secara andal sebelum 2029.

 

Next Post Previous Post