Saham BCA (BBCA) Tetap Diminati, Investor Cermati Peluang Penguatan

Saham BCA (BBCA) Tetap Diminati, Investor Cermati Peluang Penguatan

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi sorotan pasar pada perdagangan hari ini, seiring minat investor yang terus tinggi terhadap emiten bank berlapis fundamental kuat ini. 

Di tengah dinamika pasar, sejumlah analis menilai terdapat ruang bagi BBCA untuk menguat, terutama jika sentimen makroekonomi membaik dan arus modal asing kembali masuk.

Minat Investor Asing Meningkat

Investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) terhadap saham BBCA dalam beberapa hari terakhir. Pada periode 24–28 September 2026, asing membukukan akumulasi net buy sebesar Rp128,02 miliar.

Pada Senin (28/9/2026), asing kembali membukukan net buy tipis sebesar Rp17,93 miliar, meskipun harga saham ditutup melemah 0,40% ke Rp6.225. Sebelumnya, pada Jumat (25/9/2026), BBCA bahkan mencatat net buy asing sebesar Rp103,17 miliar dan ditutup naik tipis 0,40% ke Rp6.250.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi fluktuasi harian, investor institusional asing mulai mencicil masuk ke BBCA, yang biasanya menjadi sinyal positif bagi prospek jangka menengah.

Kinerja Fundamental Tetap Solid

Saham BCA (BBCA) Tetap Diminati, Investor Cermati Peluang Penguatan
(Foto Saham BBCA dari Google Finansial)
Fundamental BBCA tetap menjadi daya tarik utama bagi investor. Laba bersih (bank only) BBCA pada Agustus 2026 mencapai Rp4,92 triliun, tumbuh 13,1% secara tahunan (yoy).

Akumulasi laba bersih hingga Agustus 2026 tercatat sebesar Rp40,17 triliun, naik 2,85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga bersih pada Agustus 2026 naik 8% menjadi Rp7,1 triliun, sehingga total tahun berjalan mencapai Rp53,8 triliun.

Catatan Verdhana Sekuritas menyebutkan bahwa torehan laba BBCA per Agustus 2026 sudah mencapai 69% dari proyeksi setahun penuh, mengindikasikan kinerja yang konsisten.

Rekomendasi Analis: Buy dengan Target Harga Menarik

Sejumlah broker mempertahankan rekomendasi beli (buy) terhadap saham BBCA dengan target harga yang menarik:

UOB Kay Hian Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp8.150, menawarkan potensi kenaikan sekitar 30% dari harga saat riset dibuat.

Verdhana Sekuritas menetapkan rekomendasi buy dengan target harga lebih optimis di Rp10.100, setara price to book value (PBV) 4,1 kali dan price to earnings ratio (PER) 2026 sebesar 20,8 kali.

UOB memprediksi laba bersih BBCA pada 2026 dan 2027 masing-masing mencapai Rp60 triliun dan Rp65 triliun, dengan yield dividen 2026 ditaksir 5,7% dan meningkat menjadi 6,1% pada 2027.

Dividen Interim dan Program Buyback Dukung Daya Tarik

BCA juga memperkuat daya tariknya melalui kebijakan dividen dan program buyback. Perseroan membagikan dividen interim setiap tiga bulan, yakni pada Juni, September, dan Desember, yang menjadi strategi untuk memperkuat basis investor jangka panjang.

Saham BBCA sempat menguat setelah perseroan mengumumkan pembagian dividen interim untuk kuartal III tahun buku 2026. Selain itu, BCA telah menyatakan melakukan program buyback dengan nilai maksimal Rp5 triliun sejak 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027, yang menjadi salah satu katalis positif bagi harga saham.

Peluang dan Risiko ke Depan

Beberapa faktor yang dapat mendorong penguatan harga saham BBCA ke depan meliputi perbaikan sentimen makroekonomi, kembalinya modal asing, fundamental kuat, dan valuasi yang masih menarik dengan PER sekitar 15–16,9 kali.

Namun, investor tetap perlu mencermati beberapa risiko, seperti tekanan jual dari investor asing jika sentimen pasar global memburuk, dengan level support pertama di Rp6.208 dan support kedua di Rp6.192. Dinamika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga dapat memengaruhi sentimen investor terhadap saham perbankan.

Dengan kombinasi fundamental yang solid, kebijakan dividen yang konsisten, dan program buyback yang berjalan, saham BBCA tetap menjadi pilihan utama investor di sektor perbankan. Namun, investor disarankan untuk tetap cermat mencermati informasi material dari sumber resmi perusahaan dan kondisi makroekonomi sebelum mengambil keputusan investasi.

Next Post Previous Post