Samsung Catat Proyeksi Laba Operasional Tertinggi Berkat Permintaan Chip AI
Samsung Electronics memperkirakan kinerja keuangan yang sangat kuat pada kuartal III 2026. Perusahaan asal Korea Selatan itu memproyeksikan penjualan konsolidasi sekitar 195 triliun won, atau setara sekitar 145,33 miliar dolar AS, dengan laba operasional mencapai 107,40 triliun won, sekitar 80 miliar dolar AS.8
Angka tersebut mencakup periode Juli hingga September 2026 dan masih berstatus panduan awal atau earnings guidance. Samsung dijadwalkan merilis laporan keuangan lengkap setelah proses finalisasi dan audit selesai.
Laba melonjak dibanding tahun lalu
Proyeksi laba operasional Samsung menunjukkan peningkatan tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada kuartal III 2025, Samsung membukukan penjualan sebesar 86,06 triliun won dan laba operasional 12,17 triliun won.
Dengan demikian, proyeksi terbaru Samsung menunjukkan:
Penjualan meningkat sekitar 126,6 persen secara tahunan.
Laba operasional melonjak sekitar 782 persen.
Margin laba operasional diperkirakan mencapai sekitar 55 persen.
Dibandingkan kuartal II 2026, penjualan juga diperkirakan naik dari 171,5 triliun won menjadi 195 triliun won. Sementara itu, laba operasional meningkat dari 89,49 triliun won menjadi 107,40 triliun won.
Permintaan chip AI menjadi pendorong utama
Lonjakan kinerja Samsung terutama diperkirakan berasal dari bisnis semikonduktor, khususnya memori yang digunakan untuk pusat data dan sistem kecerdasan buatan atau AI.
Pertumbuhan penggunaan AI meningkatkan permintaan terhadap chip memori berkecepatan tinggi dan berkapasitas besar. Kondisi ini mendorong kenaikan harga serta penjualan produk memori Samsung, sekaligus memperkuat kontribusi divisi semikonduktor terhadap total laba perusahaan.
Kinerja tersebut menandai pemulihan besar bagi bisnis chip Samsung setelah sebelumnya menghadapi tekanan akibat melemahnya pasar memori global.
Angka resmi masih berupa perkiraan
Samsung menjelaskan bahwa angka 195 triliun won untuk penjualan dan 107,40 triliun won untuk laba operasional merupakan nilai tengah dari kisaran estimasi internal. Berdasarkan kisaran tersebut, penjualan diperkirakan berada di antara 194 triliun hingga 196 triliun won, sedangkan laba operasional berada di rentang 107,3 triliun hingga 107,5 triliun won.
Perusahaan menggunakan standar akuntansi K-IFRS dalam menyusun panduan tersebut. Karena aturan keterbukaan informasi di Korea Selatan tidak mengizinkan perusahaan menyampaikan estimasi laba dalam bentuk rentang, Samsung mempublikasikan angka median sebagai panduan resminya.
Bisnis smartphone menghadapi tekanan
Di tengah kesuksesan bisnis chip, divisi Mobile eXperience atau MX Samsung justru menghadapi tantangan yang berbeda. Laporan media Korea Selatan menyebutkan bahwa Samsung mulai mengurangi produksi smartphone untuk kuartal IV 2026, dengan potensi pengurangan hingga 30 persen.
Kenaikan harga memori dan komponen semikonduktor disebut menekan margin bisnis smartphone. Bahkan, menurut sumber industri yang dikutip laporan tersebut, sejumlah perangkat Samsung berisiko tidak menghasilkan keuntungan ketika dijual karena biaya komponen yang semakin tinggi.
Situasi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan AI dan semikonduktor belum tentu memberikan dampak positif yang sama bagi seluruh divisi Samsung.
Prospek Samsung
Kinerja kuartal III 2026 memperlihatkan betapa pentingnya bisnis semikonduktor bagi Samsung. Permintaan chip untuk AI mampu mengimbangi tekanan di sektor perangkat konsumen, termasuk smartphone.
Namun, perusahaan tetap perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis chip dan profitabilitas perangkat. Jika harga memori terus naik, divisi smartphone dapat menghadapi tekanan margin yang lebih besar pada kuartal-kuartal berikutnya.
Secara keseluruhan, proyeksi ini menempatkan Samsung pada posisi kuat di tengah ekspansi industri AI. Meski demikian, angka tersebut masih merupakan panduan awal dan belum menggantikan hasil keuangan final.


