XLSMART Diproyeksi Catat Kenaikan Pendapatan dan Berbalik Laba pada 2027
Mengutip Investasi, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, memperkirakan pertumbuhan ARPU EXCL pada 2027 berpeluang mencapai 6% secara tahunan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan asumsi dasar sebesar 4%.
Peluang pertumbuhan itu didukung peningkatan penetrasi layanan 5G. Menurut Imam, ARPU pengguna 5G perseroan berada sekitar 20% di atas pengguna layanan 4G.
“Penetrasi 5G yang lebih tinggi berpotensi mendukung pertumbuhan ARPU EXCL pada 2027,” ujar Imam.
Monetisasi 5G Dorong Pertumbuhan ARPU
Penyesuaian harga paket seluler dan penambahan kuota menjadi bagian dari strategi operator untuk menjaga ARPU sekaligus mendorong pelanggan beralih ke jaringan 5G.
Berdasarkan estimasi Imam, ARPU EXCL diperkirakan mencapai Rp47.800 pada kuartal III-2026, kemudian meningkat menjadi Rp49.300 pada kuartal IV-2026.
Sejak Agustus 2026, EXCL bersama PT Indosat Tbk (ISAT) juga telah menggandakan kuota pada paket berukuran besar. Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan penggunaan layanan 5G.
Sejalan dengan strategi itu, pendapatan EXCL diproyeksikan naik dari Rp47,86 triliun pada 2026 menjadi Rp49,45 triliun pada 2027. EBITDA diperkirakan meningkat dari Rp22,18 triliun menjadi Rp24,22 triliun.
Sementara itu, laba bersih inti perseroan diproyeksikan berbalik dari rugi Rp2,46 triliun pada 2026 menjadi laba Rp3,68 triliun pada 2027. Margin EBITDA diperkirakan membaik dari 46% menjadi 49%, didukung pertumbuhan pendapatan, monetisasi 5G, dan normalisasi belanja modal.
Integrasi Jaringan Mendukung Efisiensi
Kemajuan integrasi jaringan turut menjadi penopang prospek efisiensi operasional XLSMART.
Menurut data yang disampaikan Imam, integrasi melalui Multi Operator Core Network (MOCN) telah mencapai sekitar 90%. Adapun proses pembongkaran aset telah mencapai 95%.
Sisa biaya teknologi informasi diperkirakan relatif kecil. Meski demikian, biaya integrasi yang masih berjalan tetap menjadi faktor yang perlu dicermati dalam menilai kinerja perseroan.
Dengan mempertimbangkan prospek pertumbuhan ARPU, monetisasi 5G, kemajuan integrasi jaringan, dan normalisasi belanja modal, Imam mempertahankan rekomendasi beli atau buy untuk saham EXCL dengan target harga Rp5.300 per saham.
Berdasarkan estimasi 2027, saham EXCL diperdagangkan pada sekitar 4,3 kali adjusted enterprise value to EBITDA (EV/EBITDA), dengan rasio harga terhadap laba atau PER sekitar 11,6–11,7 kali.
Sebagai pembanding, valuasi sektor telekomunikasi berada di kisaran 4,1 kali EV/EBITDA berdasarkan estimasi 12 bulan ke depan. Level tersebut sekitar dua standar deviasi di bawah rata-rata historisnya.
Persaingan Internet Rumah Semakin Ketat
Prospek perbaikan kinerja XLSMART muncul di tengah meningkatnya persaingan tarif internet rumah di Indonesia.
Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia per 23 Oktober 2026 mencatat harga rata-rata layanan internet rumah turun 2,2% secara bulanan pada Oktober 2026. Sejumlah penyedia, termasuk IndiHome, XL Satu, ICON+, dan Biznet, melakukan penyesuaian harga pada periode tersebut.
Di segmen ini, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menghadapi tekanan persaingan yang semakin ketat. ARPU bisnis fixed broadband TLKM diperkirakan mencapai Rp219.000 per bulan, tumbuh 5% secara tahunan dan 4% secara kuartalan.
Jumlah pelanggannya diproyeksikan mencapai 9,86 juta. Angka itu turun 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi meningkat 4% dari kuartal sebelumnya.
Selain persaingan harga, TLKM menghadapi risiko pencadangan penurunan nilai aset sebesar Rp6 triliun hingga Rp8 triliun pada semester II-2026. Apabila direalisasikan, pencadangan tersebut berpotensi menekan laba bersih yang dilaporkan.
Biaya terkait sistem enterprise resource planning (ERP) juga diperkirakan membebani kinerja TLKM pada kuartal III-2026.


