Pasar Saham Terdampak Demonstrasi: IHSG Melemah, Investor Mulai Ambil Untung
Demonstrasi yang berlangsung sejak akhir Agustus 2025, khususnya aksi massa di Jakarta termasuk insiden truk Brigade Mobil melindas pengemudi ojek online, menyebabkan kekhawatiran investor yang mendorong penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
IHSG berhasil menorehkan rekor tertinggi sebelumnya di level 7.952, namun setelah demonstrasi memanas, indeks anjlok hingga 1,53% ke level 7.830 pada penutupan Jumat, 29 Agustus 2025. Penurunan ini juga menyebabkan kapitalisasi pasar saham Indonesia menguap sekitar Rp195 triliun. Mayoritas sektor saham mengalami tekanan dengan saham-saham blue chip seperti BCA (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Telkom Indonesia (TLKM) menjadi pendorong penurunan IHSG.
Investor asing juga tercatat melakukan aksi jual bersih, menambah tekanan pada pasar. Analis menilai bahwa ketidakstabilan politik akibat demonstrasi serta kekhawatiran berlanjutnya aksi massa menjadi faktor utama pelemahan pasar dalam negeri. Namun, otoritas bursa menegaskan bahwa fundamental pasar modal Indonesia tetap kuat dan koreksi yang terjadi bersifat teknikal serta wajar dalam konteks volatilitas pasar.
Sentimen negatif dari demonstrasi ini menyebabkan investor mulai mengambil untung (profit taking) untuk menghindari risiko jangka pendek.
Di tengah kondisi ini, sektor defensif seperti consumer staples dan telekomunikasi lebih diminati karena dianggap lebih tahan terhadap tekanan pasar. Analis menyarankan strategi wait and see hingga situasi politik dan sosial lebih kondusif kembali.
Kesimpulannya, demonstrasi berdampak signifikan pada penurunan IHSG melalui meningkatnya ketidakpastian dan ketegangan politik, mengakibatkan jualan saham yang menyebabkan koreksi pasar sementara.
Walaupun demikian, fundamental pasar masih dianggap sehat, dan investor diharapkan tetap rasional dalam pengambilan keputusan investasi selama periode ketidakpastian ini.


