Naik 700% Sejak IPO, Saham CDIA Prajogo Pangestu Masih Punya Potensi Penguatan
| (Foto Saham CDIA dari Google Finansial) |
Performa Pasca-IPO
Saham CDIA melantai di Bursa Efek Indonesia pada 9 Juli 2025 dengan harga IPO Rp190 per saham, dan kini melonjak hingga lebih dari 700% didorong sentimen pasar positif. Awalnya, saham ini sering menyentuh auto reject atas (ARA), seperti kenaikan 374% dalam minggu pertama dan hingga 697% pada Juli, hingga BEI sempat gembok perdagangan. Hingga Desember 2025, kapitalisasi pasar CDIA tembus ratusan triliun, menjadikannya salah satu emiten terbesar.
Sumber Pendapatan Utama
Pendapatan CDIA per kuartal III/2025 didominasi sektor energi dengan US$68,23 juta dari penjualan daya listrik, naik 13,85% YoY dan menyumbang 65% total.
Jasa sewa kapal jadi kontributor kedua sebesar US$24,67 juta, melonjak dari US$1,84 juta tahun sebelumnya, diikuti penjualan bahan bakar (US$7,72 juta) dan sewa tangki (US$4,19 juta). Saat ini, energi masih jadi andalan, tapi perusahaan giat diversifikasi ke pelabuhan, logistik, dan penyimpanan.
Strategi Diversifikasi
CDIA targetkan komposisi pendapatan seimbang dalam 3-5 tahun: 47% energi, 40% pelabuhan & penyimpanan, 13% logistik, melalui monetisasi aset Grup Chandra Asri dan ekspansi pelanggan ketiga. Strategi ini gabungkan aset pertumbuhan dan defensif untuk kuatkan arus kas. BCA Sekuritas nilai positif langkah ini, proyeksikan pendapatan naik jadi US$401 juta (2026), US$510 juta (2027), US$519 juta (2028), hingga US$523 juta (2029).
Proyeksi Keuangan
Laba bersih diramal capai US$79 juta pada 2026, US$109 juta (2027), US$123 juta (2028), dan US$129 juta (2029), didukung pertumbuhan tahunan stabil. Analis BCA Sekuritas Muhammad Fariz yakin CDIA punya potensi penguatan berkelanjutan. Kekayaan Prajogo Pangestu ikut terdongkrak, naik Rp57 triliun berkat reli saham grupnya.

