Sawit Bebas Tarif, Presiden Trump Minta Akses Mineral Kritis dari Indonesia
Presiden Donald Trump menawarkan pembebasan tarif impor untuk komoditas sawit Indonesia sebagai bagian kesepakatan dagang bilateral, dengan syarat Indonesia membuka akses mineral kritis seperti nikel, aluminium, litium, dan logam tanah jarang.
Kesepakatan ini diumumkan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto usai negosiasi dengan USTR Jamieson Greer di Washington, menargetkan penandatanganan akhir Januari 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto dan Trump. Langkah ini respons terhadap dominasi China di sektor mineral Indonesia, sekaligus buka pasar AS untuk kopi, kakao, dan teh Indonesia.
Latar Belakang Negosiasi Dagang
AS memangkas tarif impor Indonesia dari 32% menjadi 19% sejak Juli 2025, kini perpanjang pengecualian untuk produk unggulan pertanian sebagai timbal balik akses mineral strategis. Trump khawatir ketergantungan rantai pasok energi hijau pada China, dorong Indonesia jadi mitra alternatif. Indonesia dapatkan akses pasar lebar, tapi harus jaga hilirisasi domestik agar tak sekadar ekspor bahan mentah.
Mineral Kritis yang Diminta AS
Fokus AS pada nikel untuk baterai EV, aluminium, litium, serta logam tanah jarang untuk teknologi hijau. Permintaan ini peluang perluas ekspor olahan, tapi ekonom ingatkan risiko de-industrialisasi prematur jika tanpa transfer teknologi dan investasi manufaktur. Pemerintah negosiasikan klausul lindungi kepentingan nasional sambil maksimalkan nilai tambah.
Dampak Ekonomi bagi Indonesia
Pembebasan tarif sawit tingkatkan daya saing ekspor Rp triliunan, dukung petani dan industri CPO. Namun, buka akses mineral picu dilema: untung jangka pendek vs risiko longgar cadangan strategis. Kesepakatan ini jadi milestone hubungan dagang RI-AS di era Trump, seimbangkan kepentingan kedua negara.

