Alasan di Balik Penutupan Ribuan ATM Sepanjang Tahun 2025

Alasan di Balik Penutupan Ribuan ATM Sepanjang Tahun 2025
Penutupan ribuan ATM sepanjang 2025 di Indonesia mencerminkan transformasi besar dalam industri perbankan akibat digitalisasi dan efisiensi operasional. Bank-bank besar seperti BCA, BTN, dan lainnya secara bertahap menutup mesin ATM yang kurang produktif untuk mengalihkan sumber daya ke kanal digital yang lebih murah dan efisien.

Latar Belakang 

Pandemi COVID-19 mempercepat adopsi transaksi non-tunai, dengan nasabah beralih ke mobile banking, QRIS, dan e-wallet seperti OVO atau GoPay. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penurunan jumlah ATM dari 91.173 unit pada akhir 2024 menjadi sekitar 89.774 unit hingga triwulan III/2025, atau setara penutupan lebih dari 1.400 unit.

Tren ini tidak hanya di Indonesia; secara global, bank mengurangi ATM karena biaya operasional tinggi, termasuk listrik, keamanan, dan pengisian uang tunai yang mencapai miliaran rupiah per tahun per mesin.

Alasan Ekonomi dan Operasional

Biaya pemeliharaan ATM sangat mahal, sementara transaksi per mesin turun drastis—rata-rata hanya 200-300 kali per hari di lokasi underutilized. Bank memilih menutup ATM di area ramai digitalisasi untuk menghemat hingga 30-40% biaya infrastruktur.

Strategi ini juga didorong regulasi OJK yang mendorong inklusi keuangan digital, di mana layanan seperti Cash Deposit Machine (CDM) dan Customer Service Machine (CRM) dianggap lebih unggul karena mendukung setoran dan transaksi kompleks tanpa teller.

Contoh Bank Spesifik

BTN: Menutup ratusan ATM sambil ekspansi CRM di seluruh cabang, terintegrasi dengan superapp Bale untuk pembiayaan rumah subsidi. Ini mengurangi ketergantungan tunai di segmen MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah).

BCA: Meski tutup ribuan ATM, mereka justru tambah unit di lokasi premium seperti bandara dan mal untuk nasabah kelas atas yang masih butuh akses cepat.

Bank lain seperti Mandiri dan BRI mengikuti pola serupa, fokus pada hybrid model di mana ATM hanya pelengkap.

Dampak dan Masa Depan

Nasabah di daerah terpencil masih bergantung ATM, tapi OJK pastikan aksesibilitas terjaga via agen BRILink atau Livin'. Prediksi 2026: penutupan bisa capai 5.000 unit lagi jika digitalisasi tembus 80% transaksi.

Secara keseluruhan, ini langkah adaptasi bank menghadapi cashless society, sejalan dengan target BI untuk kurangi biaya sistem pembayaran.

Next Post Previous Post