BBCA Ditinggal Asing: Net Sell Rp 2,44 Triliun Hantam Saham Bank Central Asia

BBCA Ditinggal Asing: Net Sell Rp 2,44 Triliun Hantam Saham Bank Central Asia!
(Foto Saham BBCA dari Google Finansial)
Investor asing melakukan net sell signifikan terhadap saham BBCA sebesar Rp 2,44 triliun pada periode 19-21 Januari 2026, menjadikannya saham dengan tekanan jual terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Detail Net Sell Asing

Investor asing membeli saham BBCA senilai Rp 1,58 triliun namun menjual Rp 4,02 triliun, menghasilkan net sell Rp 2,44 triliun selama tiga hari perdagangan terakhir minggu itu. Rata-rata harga jual mencapai Rp 7.918,5 per saham, sementara harga beli rata-rata Rp 7.997,4, menunjukkan preferensi asing untuk melepas posisi di level harga tinggi. Volume penjualan mendominasi dengan 308,36 juta lembar dijual versus 198,12 juta lembar dibeli.

Pergerakan Harga Saham

Harga saham BBCA anjlok 4,94% dari Rp 8.050 menjadi Rp 7.650 dalam periode tersebut, dengan penurunan harian terbesar 3,75% pada 21 Januari saat ditutup di Rp 7.700. Saham ini keluar dari zona konsolidasi 8.000-8.100 yang bertahan selama beberapa minggu sebelumnya, memicu sinyal pelemahan teknikal. Indikator RSI saat ini di level 33, mendekati kondisi oversold yang berpotensi memicu konsolidasi atau rebound jika support Rp 7.500 bertahan.

Posisi Relatif di IHSG

BBCA memimpin daftar net foreign sell, mengungguli BUMI (Rp 1,25 triliun), GOTO (Rp 285,8 miliar), dan ASII (Rp 206 miliar). Meski IHSG menguat 0,09% menjadi 7.522 pada 21 Januari, saham blue-chip seperti BBCA justru tertekan, mencerminkan rotasi dana asing ke sektor lain. Volume perdagangan BBCA pada 22 Januari pagi mencapai 59,18 juta lembar di harga Rp 7.650, masih di bawah rata-rata harian 118,6 juta lembar.

Implikasi Jangka Pendek

Net sell ini melanjutkan tren pelepasan saham perbankan besar oleh asing sejak akhir 2025, dipicu oleh valuasi tinggi BBCA (PER 24x) dibandingkan yield dividen 2,8%. Support kunci berikutnya di Rp 7.500; penembusan bisa membidik Rp 7.300, sementara resistance Rp 8.000 memerlukan inflow domestik kuat untuk recovery. Investor ritel disarankan monitor data foreign flow harian BEI untuk sinyal pembalikan.

 

Next Post Previous Post