Cuaca Ekstrem di Indonesia? BMKG Sebut Penyebab Utama dari Perubahan Iklim Hingga La Nina
BMKG menegaskan bahwa perubahan iklim global dan fenomena La Niña menjadi penyebab utama cuaca ekstrem di Indonesia saat ini, yang memicu hujan lebat intens, banjir bandang, longsor, serta angin kencang di berbagai wilayah. Kondisi ini telah menyebabkan peningkatan frekuensi bencana hidrometeorologi sejak akhir 2025 hingga Januari 2026, terutama di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.
Penyebab Utama Secara Detail
Perubahan iklim menyebabkan pemanasan global yang meningkatkan penguapan air laut, sehingga membentuk lebih banyak uap air di atmosfer dan memicu hujan ekstrem yang lebih sering serta intens. Fenomena La Niña, di mana suhu permukaan laut di Pasifik timur lebih dingin dari normal, memperkuat angin perdagangan timur yang membawa kelembaban tinggi ke wilayah Indonesia, menghasilkan awan hujan tebal dan curah hujan melebihi 100 mm/hari di banyak daerah.
Selain itu, faktor pendukung seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif, siklon tropis di Samudra Hindia Selatan, dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif membuat atmosfer menjadi labil, memperburuk pola musim hujan yang seharusnya mereda.
Dampak Terkini di Berbagai Wilayah
Hingga 24 Januari 2026, cuaca ekstrem masih berlangsung di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, dan Sulawesi dengan laporan banjir di Semarang, longsor di Jember, serta pohon tumbang di Jakarta akibat angin hingga 40 km/jam.
Potensi ini diprediksi berlanjut hingga Februari karena La Niña lemah yang bertahan, dengan curah hujan tahunan mencapai 2.000-5.000 mm di wilayah barat Indonesia. Dampaknya tidak hanya bencana alam, tapi juga gangguan penerbangan, listrik padam, dan kerugian ekonomi di sektor pertanian.
Prakiraan Jangka Pendek dan Panjang
BMKG merilis peta potensi cuaca ekstrem harian yang menunjukkan risiko tinggi di 15 provinsi pada 23-25 Januari 2026, termasuk hujan lebat disertai petir dan gelombang tinggi 2,5-4 meter di Selat Sunda. Secara musiman, puncak hujan ekstrem terjadi Januari-Maret, diikuti transisi ke kemarau basah pada April-Mei akibat pengaruh La Niña yang melemah. Pantau terus situs resmi BMKG untuk update real-time.
Langkah Mitigasi dan Imbauan
Warga diimbau menghindari perjalanan di daerah rawan banjir/longsor, mempersiapkan drainase, dan mengikuti peringatan dini via aplikasi Info BMKG.
Pemerintah daerah diminta koordinasi dengan BPBD untuk evakuasi dini, sementara adaptasi jangka panjang meliputi reboisasi dan infrastruktur tahan iklim. Kesadaran masyarakat akan perubahan iklim krusial untuk mengurangi korban jiwa dan kerusian.

