Dalam Sepekan, Modal Asing Keluar Indonesia Hingga Rp5,96 T, Ini Penyebabnya
Rincian Aliran Dana
Keluarnya modal ini tersebar di tiga instrumen utama pasar keuangan domestik. Di pasar saham (IDX), investor asing melakukan jual bersih Rp2,67 triliun, menandakan tekanan di sektor ekuitas. Sementara itu, di pasar obligasi, Surat Berharga Negara (SBN) mengalami net sell Rp1,44 triliun, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencatat outflow Rp1,85 triliun. Total ini mencerminkan sentimen bearish investor asing terhadap aset Indonesia secara keseluruhan.
Faktor Penyebab Utama
Beberapa faktor global dan domestik berkontribusi terhadap outflow ini. Pertama, penguatan yield US Treasury notes (US Ten Years Note) ke level 4,65% mendorong capital flight dari emerging markets seperti Indonesia menuju aset safe haven AS.
Kedua, ketidakpastian geopolitik global, termasuk eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan kebijakan proteksionisme AS pasca-pemilu 2024, memicu risk-off sentiment. Domestik, pelemahan rupiah di bawah Rp16.800/USD ditambah defisit transaksi berjalan yang melebar menjadi sorotan, meski BI menegaskan fundamental ekonomi RI tetap solid dengan cadangan devisa di atas US$150 miliar.
Dampak ke Pasar Keuangan
Pekan tersebut menyaksikan volatilitas tinggi. Rupiah bergerak di kisaran Rp16.850–Rp16.880 per USD, melemah 0,5% secara w-o-w. Yield SBN seri 10 tahun naik ke 6,33% dari 6,25% pekan sebelumnya, sementara premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia 5 tahun melonjak menjadi 73,28 basis poin, sinyal risiko kredit yang meningkat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tertekan, tutup di bawah 7.100 poin dengan banyak blue chip seperti BBCA dan TLKM mengalami aksi ambil untung.
|
Instrumen |
Net Sell (Rp Triliun) |
Perubahan Rupiah |
Yield SBN 10T |
|
Saham (IDX) |
2,67 |
-0,5% |
- |
|
SBN |
1,44 |
Rp16.850-16.880 |
6,33% |
|
SRBI |
1,85 |
- |
- |
|
Total |
5,96 |
- |
↑8 bps |
Respons Kebijakan BI dan Prospek
Bank Indonesia merespons dengan intervensi valas di pasar spot dan Non-Deliverable Forward (NDF), ditambah koordinasi ketat dengan OJK dan Kementerian Keuangan untuk stabilisasi. BI optimis aliran masuk bisa pulih jika yield AS stabil dan data inflasi domestik tetap rendah di 2,5-3%.
Investor disarankan pantau data CPI AS mendatang dan kebijakan The Fed, karena pola serupa terjadi di negara EM lain seperti Thailand dan Afrika Selatan. Secara historis, outflow seperti ini bersifat sementara, dengan net buy asing Januari secara keseluruhan masih surplus Rp1,2 triliun sebelum pekan ketiga.

