Danantara Siapkan Rp100 Triliun Bangun BUMN Tekstil, Ini Dampaknya ke Industri TPT
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyiapkan dana sekitar Rp100 triliun atau US$6 miliar untuk membentuk BUMN baru khusus di sektor tekstil dan garmen, atas arahan Presiden Prabowo Subianto.
Inisiatif ini bertujuan memperkuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menghadapi risiko tarif perdagangan AS, dengan fokus modernisasi rantai pasok dan peningkatan ekspor dari US$4 miliar menjadi US$40 miliar dalam 10 tahun.
Pembentukan BUMN ini bukan menghidupkan kembali perusahaan lama, melainkan entitas baru yang dikelola Danantara untuk pengadaan barang modal, teknologi canggih, dan substitusi impor.
Latar Belakang Inisiatif
Rencana diumumkan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pada 14 Januari 2026 di acara Indonesian Business Council (IBC) Business Outlook 2026, merespons rapat kabinet di Hambalang pada 11 Januari. Studi pemerintah telah menyusun roadmap penguatan TPT, menargetkan pendalaman value chain di benang, kain, dyeing, printing, dan finishing yang selama ini lemah. Dana dialokasikan untuk investasi strategis, dengan insentif bagi swasta yang ingin bergabung.
Dampak ke Industri TPT
Modernisasi dan Ekspor: Peningkatan kapasitas produksi melalui teknologi baru diharapkan dorong ekspor TPT hingga 10 kali lipat, lindungi 7 juta pekerja dari tekanan tarif global.
Rantai Pasok Kuat: Mengatasi kelemahan hilir seperti pewarnaan dan finishing, ciptakan efek berganda ke industri pendukung seperti katun dan kimia tekstil.
Pernikahan Publik-Swasta: BUMN jadi garda terdepan, tapi buka peluang kolaborasi swasta untuk efisiensi dan daya saing regional.
Tantangan dan Prospek
Sektor TPT Indonesia menghadapi persaingan ketat dari Vietnam dan Bangladesh, ditambah fluktuasi harga bahan baku. Namun, dukungan fiskal pemerintah melalui Danantara berpotensi revitalisasi industri, kontribusi ke target pertumbuhan ekonomi 6% di 2026 dengan multiplier effect ke manufaktur. Pelaku usaha menyambut positif, asal eksekusi cepat dan transparan.

