Dari Jakarta ke Miami: Kota-Kota Megapolitan Terancam Tenggelam Akibat Pemanasan Global
Jakarta dan Miami menonjol sebagai kota megapolitan yang paling rentan tenggelam akibat pemanasan global, yang memicu naiknya permukaan air laut hingga berpotensi menggenangi puluhan persen wilayahnya dalam dekade mendatang.
Ancaman ini tidak hanya dari pencairan es di kutub, tapi juga penurunan tanah akibat aktivitas manusia seperti ekstraksi air tanah berlebih, yang mempercepat risiko banjir permanen di kedua kota tersebut.
Penyebab Utama dan Mekanisme
Pemanasan global menyebabkan ekspansi termal air laut dan pencairan gletser, dengan proyeksi NASA menunjukkan kenaikan 0,9-1,8 meter pada 2100, yang bisa mengancam 300 juta orang secara global.
Di Jakarta, subsidence atau penurunan tanah mencapai 25 cm per tahun di beberapa area, membuat 40% kota sudah berada di bawah permukaan laut relatif; faktor ini diperburuk oleh urbanisasi cepat dan pompa air tanah untuk kebutuhan 10 juta penduduk.
Sementara di Miami, kombinasi naiknya laut Atlantik dan badai tropis semakin sering, ditambah tanah berpori yang memungkinkan air asin meresap, mengancam 60% wilayah kota pada 2060.
Kota Megapolitan Lain yang Terancam
Selain Jakarta dan Miami, studi terbaru mengidentifikasi puluhan kota besar dengan risiko serupa, termasuk:
New York, AS: Rawan surge badai seperti Sandy 2012, dengan potensi kerugian ekonomi triliunan dolar.
Lagos, Nigeria: Erosi pesisir menggerus garis pantai rendah, mengancam 20 juta penduduk.
Bangkok, Thailand: Tenggelam 1-2 cm per tahun, berisiko lumpuh pada 2030 tanpa tanggul raksasa.
Dhaka, Bangladesh: 17% wilayah bisa tenggelam pada 2050 akibat sungai Brahmaputra yang meluap.
Shanghai, China dan Ho Chi Minh City, Vietnam: Termasuk 10 kota teratas dengan subsidence tercepat.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Risiko ini berpotensi memindahkan jutaan penduduk, merusak infrastruktur senilai miliaran dolar, dan memicu krisis pangan serta kesehatan; misalnya, Miami sudah alami "sunny day flooding" rutin, sementara Jakarta bergulat dengan banjir tahunan yang memakan korban jiwa.
Di Indonesia, proyek Giant Sea Wall NCICD dirancang untuk lindungi Jakarta hingga 2060, tapi biayanya mencapai Rp 300 triliun dengan tantangan korupsi dan relokasi ibu kota ke Nusantara.
Secara global, adaptasi seperti mangrove restorasi dan bangunan elevated sedang diuji, tapi tanpa pengurangan emisi karbon drastis, prediksi tenggelamnya kota-kota ini tetap tak terelakkan.
Upaya Mitigasi Terkini
Pemerintah Indonesia percepat pemindahan ibu kota ke IKN untuk kurangi beban Jakarta, sementara AS investasi miliaran di Florida untuk pompa air dan tanggul. Laporan 2026 menekankan transisi energi hijau dan Paris Agreement sebagai kunci, dengan kota seperti Miami sudah terapkan zona banjir wajib. Namun, tantangan utama adalah koordinasi internasional, karena dampaknya lintas batas.

