DFAM: Pengelola Hotel Dafam yang Cuan di Tengah Properti Lesu?
PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) telah menjelma menjadi pemain utama dalam industri perhotelan Indonesia dengan strategi pengelolaan yang cerdas. Perusahaan ini tidak hanya mengoperasikan jaringan Hotel Dafam, tetapi juga meraup keuntungan signifikan melalui model bisnis berbasis kemitraan.
Sejarah dan Ekspansi Cepat
DFAM didirikan pada 2011 dan mulai mengelola hotel seperti Hotel Marlin Pekalongan serta Hotel Dafam Semarang. Pada 2013, grup ini sudah mencatat pendapatan Rp180 miliar per tahun meski baru berdiri tiga tahun sebelumnya, berkat ekspansi agresif termasuk akuisisi Hotel Grand Cilacap.
Perusahaan terus berkembang dengan rebranding hotel lain dan membuka cabang di berbagai wilayah seperti Sulawesi, Jawa Timur, Bali, Jakarta, dan Jawa Barat. Anak usaha PT Dafam Hotel Management (DHM) mengoperasikan sekitar 24 cabang, termasuk villa serta resort, dengan okupansi rata-rata di atas 80% berkat lokasi strategis.
Strategi Pengelolaan yang Menguntungkan
| (Foto Saham DFAM dari Google Finansial) |
Diversifikasi ke properti seperti perkantoran dan perumahan (Gaia Residence di Semarang, Batang, serta Jatayu Residence Pekalongan) menjadi penyeimbang cash flow jangka pendek. Ekspansi senilai Rp800 miliar untuk hotel baru di Makassar dan Jakarta menunjukkan komitmen pertumbuhan meski di tengah tantangan pandemi.
Faktor Kunci Keberhasilan dan Prospek
Di bawah pimpinan Billy Dahlan dan CEO DHM Andhy Irawan, DFAM mencapai break-even-point (BEP) hotel dalam 7-8 tahun, didukung teknologi cloud untuk efisiensi operasional di 24 cabang. Okupansi tinggi dan subsidi silang antar-bisnis menjaga profitabilitas, dengan rencana menjadi operator hotel terbanyak di Indonesia.
Sebagai saham terdaftar, DFAM menarik investor ritel berkat kinerja solid di sektor hospitality dan properti. Pada 2026, prospek cuan tetap cerah dengan ekspansi regional dan manajemen adaptif terhadap tren pariwisata.

