Dinding Beton Retak Setelah Dilubangi? Ini Penyebabnya
Dinding Beton Retak Setelah Dilubangi? Ini Penyebabnya
Melubangi dinding beton kerap dilakukan saat renovasi rumah, pemasangan AC, ventilasi, pipa, atau instalasi kabel. Namun, proses ini tidak jarang menimbulkan retakan di sekitar area lubang. Kondisi tersebut sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda adanya kesalahan dalam metode pelubangan.
Retakan pada dinding beton bukan hanya mengganggu tampilan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kekuatan struktur. Teknik pengeboran yang kurang tepat, alat yang tidak sesuai, atau tekanan berlebih bisa menjadi penyebab utamanya. Jika dibiarkan, retakan dapat melebar dan meningkatkan risiko kerusakan struktural pada bangunan.
Penyebab Dinding Beton Retak Setelah dilubangi
1. Melubangi Beton dengan Metode yang Salah
Beton memiliki karakteristik yang jauh lebih keras dan padat dibandingkan dinding biasa seperti bata atau gipsum. Jika metode pelubangan disamakan dengan dinding non-beton, risiko kerusakan akan meningkat. Hal ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman perbedaan material.
Metode yang salah dapat menimbulkan getaran dan tekanan berlebih saat proses pengeboran. Getaran tersebut menyebar ke area sekitar lubang dan memicu retakan. Tekanan yang tidak terkontrol juga bisa merusak ikatan internal beton.
2. Penggunaan Alat yang Tidak Sesuai
Bor konvensional umumnya tidak dirancang untuk menghadapi beton yang keras dan bertulang. Penggunaan alat ini meningkatkan risiko slip, panas berlebih, dan tekanan tidak merata. Akibatnya, beton menjadi lebih mudah retak.
Alat yang tidak sesuai juga membuat hasil lubang menjadi tidak presisi. Lubang yang tidak rapi menyebabkan tekanan terkonsentrasi di satu titik. Kondisi ini sangat berpotensi memicu retakan di sekitar area pengeboran
3. Tidak Memperhitungkan Struktur di Dalam Beton
Di dalam beton terdapat besi tulangan yang berfungsi memperkuat struktur. Jika pengeboran mengenai tulangan tanpa perhitungan, dampaknya bisa sangat serius. Selain merusak alat, beton di sekitarnya juga bisa mengalami retak.
Lapisan beton memiliki ketebalan dan fungsi struktural tertentu. Titik lubang yang salah dapat melemahkan bagian penting dari struktur tersebut. Hal ini berpotensi menimbulkan kerusakan jangka panjang pada dinding beton.
4. Tekanan Berlebih dan Proses yang Terlalu Dipaksakan
Banyak orang memaksa pengeboran agar lubang cepat tembus. Tekanan berlebih ini membuat beton tidak mampu menahan gaya secara bertahap. Akibatnya, muncul retakan kecil yang sering tidak langsung terlihat.
Retakan rambut bisa berkembang menjadi retak struktural jika dibiarkan. Getaran dan tekanan yang terus dipaksakan memperbesar jalur retakan. Dalam jangka panjang, kekuatan dinding beton dapat menurun signifikan.
5. Faktor Usia dan Kondisi Beton
Beton lama biasanya memiliki kekuatan yang berbeda dibandingkan beton baru. Seiring waktu, beton bisa mengalami penurunan kualitas material. Hal ini membuatnya lebih rentan terhadap retakan saat dilubangi.
Kondisi beton yang lembap, rapuh, atau pernah direnovasi sebelumnya juga memengaruhi daya tahannya. Beton dengan kondisi tersebut cenderung tidak stabil saat menerima getaran. Proses pengeboran pun menjadi lebih berisiko menyebabkan retakan.

