Hasil Lengkap Rapat Darurat BEI-OJK Terkait Permintaan MSCI
Rapat darurat BEI (Bursa Efek Indonesia) dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) terkait permintaan MSCI menghasilkan komitmen konkret untuk mengatasi isu transparansi kepemilikan saham di pasar modal Indonesia. Respons ini muncul setelah IHSG anjlok signifikan, memicu trading halt dua hari berturut-turut akibat kekhawatiran investor asing soal kebijakan MSCI.
Latar Belakang Krisis
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat sejak akhir pekan lalu, dengan penurunan mencapai level terendah dalam beberapa tahun.
Penyebab utama adalah keputusan MSCI yang membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), Number of Shares (NOS), serta penambahan saham baru ke indeksnya hingga review Februari 2026.
MSCI menyoroti kurangnya transparansi data ultimate beneficial owner (UBO) dan free float saham di Indonesia, yang berdampak pada aliran dana asing ke pasar saham lokal. Situasi ini memicu aksi jual massal, terutama dari investor institusi asing, sehingga BEI dan OJK menggelar rapat darurat untuk meredam kepanikan pasar.
Hasil Lengkap Rapat Darurat
Rapat yang digelar pada 27-28 Januari 2026 melibatkan pimpinan BEI, OJK, KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia), dan self-regulatory organizations (SRO) menghasilkan kesepakatan strategis sebagai berikut:
Pengungkapan Data UBO: OJK berkomitmen membuka data UBO untuk 100 emiten terpilih dengan free float terendah sebagai tahap awal, yang akan diserahkan langsung ke MSCI untuk verifikasi.
Aturan Free Float Baru: Berlaku minimum free float 15% untuk emiten existing dan calon IPO baru, guna meningkatkan likuiditas dan daya tarik bagi investor asing.
Standar Pelaporan Kepemilikan: Fokus awal pada data pemilik saham >5%, dengan konsultasi lanjutan bersama MSCI untuk menyempurnakan format dan standar data.
Koordinasi Intensif: BEI, OJK, dan KSEI berjanji mempercepat proses rekonsiliasi data dan meningkatkan pengawasan terhadap pelaporan pemilik manfaat akhir.
Komitmen ini disampaikan langsung oleh Direktur BEI dan pimpinan OJK dalam konferensi pers pasca-rapat, menekankan bahwa langkah-langkah ini akan direalisasikan secepat mungkin untuk memulihkan kepercayaan pasar.
Langkah Konkret Selanjutnya
Untuk mempercepat implementasi, OJK akan sementara berkantor di gedung BEI mulai Jumat, 30 Januari 2026, guna koordinasi harian yang lebih efektif. CEO BEI dijadwalkan bertemu langsung dengan tim MSCI pada Senin pekan depan (2 Februari 2026), dengan target penyelesaian isu utama pada Maret 2026.
Selain itu, ada rencana relaksasi aturan investasi BPJS Ketenagakerjaan untuk meningkatkan likuiditas IHSG melalui pembelian saham secara bertahap. BEI juga menjanjikan diskusi berkelanjutan dengan MSCI, termasuk kemungkinan penyesuaian aturan foreign ownership limit untuk sektor tertentu.
Dampak Potensial bagi Pasar
Meski IHSG masih melemah pada 29 Januari 2026, respons otoritas ini diharapkan meredam kecemasan berlebih di kalangan investor.
Jika terealisasi, langkah-langkah ini bisa membuka peluang kenaikan FIF kembali pada review MSCI berikutnya, yang berpotensi mendatangkan inflow dana asing hingga miliaran dolar AS ke pasar saham Indonesia. Investor disarankan memantau perkembangan rapat lanjutan dan data emiten untuk mengantisipasi volatilitas jangka pendek.

