HSBC Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,2 Persen 2026

HSBC Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,2 Persen 2026

HSBC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% pada 2026, selaras dengan perkiraan pemerintah meskipun sedikit di bawah target APBN 5,4%. 

Proyeksi ini diungkapkan oleh Pranjul Bhandari, Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, dalam acara Outlook Makro Ekonomi dan Prospek Investasi Indonesia 2026 di Jakarta pada 12 Januari 2026. Estimasi ini mencerminkan pemulihan bertahap pasca perlambatan 2025, didorong oleh kombinasi kebijakan domestik dan dinamika global.

Faktor Pendorong Utama

Kebijakan moneter akomodatif dari Bank Indonesia menjadi kunci, dengan prediksi pelonggaran suku bunga acuan hingga tiga kali sepanjang 2026, asalkan stabilitas rupiah terjaga. 

Konsumsi rumah tangga, kontributor terbesar PDB, diproyeksikan pulih berkat kenaikan upah minimum, perluasan lapangan kerja di sektor manufaktur, dan investasi asing langsung (FDI) yang meningkat. Selain itu, stimulus fiskal seperti program bantuan sosial dan insentif investasi akan memperkuat permintaan domestik, sementara reformasi struktural di sektor energi dan infrastruktur digital menambah momentum.

Tantangan dan Risiko

Ekspor menghadapi tekanan dari melemahnya permintaan global, khususnya komoditas seperti batu bara dan minyak sawit, yang bisa menekan neraca perdagangan. 

Defisit APBN 2025 yang membengkak menjadi 2,92% PDB (di atas target 2,5%) menimbulkan kekhawatiran fiskal jangka pendek, meskipun pertumbuhan PDB nominal 9-10% pada 2026 diharapkan meningkatkan basis pajak. Inflasi diprediksi terkendali di kisaran 2,5-3%, tapi gejolak harga pangan dan fluktuasi rupiah tetap menjadi risiko utama.

Perbandingan Proyeksi Lain

Berikut perbandingan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI 2026 dari lembaga internasional:

Lembaga

Proyeksi 2026 (%)

Catatan

HSBC

5,2

Konsumsi domestik jadi penopang

Pemerintah

5,2

Selaras dengan RAPBN 2026

IMF (update Okt 2025)

5,1

Fokus pada reformasi struktural

World Bank

5,0

Risiko eksternal lebih tinggi


Proyeksi HSBC lebih optimis dibandingkan lembaga lain berkat keyakinan pada kebijakan pro-pertumbuhan Prabowo.

Dampak Investasi

Investor disarankan fokus pada sektor konsumsi (ritel, makanan-minuman), manufaktur, dan infrastruktur, dengan potensi imbal hasil obligasi pemerintah naik ke 6,5-7% akibat defisit lebih tinggi. Mata uang rupiah diprediksi stabil di Rp15.500-16.000 per USD jika BI proaktif, mendukung alokasi aset ke saham blue-chip dan emas sebagai lindung nilai.
Next Post Previous Post