Presiden Trump Sebut Raksasa Minyak Bakal Investasi di Venezuela Rp 1.684 T

Presiden Trump Sebut Raksasa Minyak Bakal Investasi di Venezuela Rp 1.684 T

Presiden Donald Trump memang mengumumkan rencana investasi besar-besaran dari raksasa minyak AS di Venezuela senilai US$100 miliar atau sekitar Rp1.684 triliun (dengan kurs Rp16.842 per dolar AS), sebagai bagian dari upaya membangkitkan kembali industri minyak negara tersebut pasca-krisis politik ekstrem.

Latar Belakang Pernyataan

Pernyataan Trump disampaikan pada awal Januari 2026 dalam pertemuan tertutup di Gedung Putih dengan para CEO perusahaan minyak besar seperti ExxonMobil, ConocoPhillips, dan Chevron, hanya beberapa hari setelah operasi militer AS yang mengejutkan berhasil menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro. 

Trump menekankan bahwa pemerintah AS akan menjamin keamanan total untuk proyek ini, termasuk perlindungan aset dari ancaman pemberontak atau gangguan regional, agar perusahaan bisa mencapai pengembalian investasi yang menguntungkan dalam waktu singkat. Ia juga membatalkan rencana serangan militer lanjutan ke Venezuela, menggantinya dengan pendekatan ekonomi yang disebutnya "win-win" untuk AS dan Venezuela baru.

Detail Investasi dan Potensi Dampak

Investasi awal US$100 miliar difokuskan pada pemulihan infrastruktur minyak yang hancur akibat sanksi bertahun-tahun, korupsi, dan pengabaian di bawah rezim Maduro, dengan target produksi minyak naik dari 800.000 barel per hari saat ini menjadi hingga 3 juta barel per hari dalam 5-10 tahun ke depan. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel atau 17% dari total global, jauh melampaui Arab Saudi, tapi produksinya merosot drastis dari puncak 3,5 juta barel per hari di era 1990-an karena mismanajemen. 

Menurut estimasi analis seperti Rystad Energy, total biaya rekonstruksi sektor energi bisa mencapai US$180 miliar hingga 2040, dengan potensi membuka lapangan kerja ribuan bagi warga lokal dan meningkatkan ekspor minyak ke AS, yang kini bergantung pada impor dari Timur Tengah.

Respons Pasar dan Kontroversi

Pengumuman ini langsung memicu penurunan tajam harga minyak dunia, dengan Brent Crude jatuh lebih dari 5% ke bawah US$70 per barel karena kekhawatiran banjir pasokan baru dari Venezuela. Beberapa kritikus di AS menyebut ini sebagai "hadiah" bagi perusahaan minyak yang sudah kaya, sementara pendukung Trump memuji sebagai langkah cerdas untuk menekan inflasi energi dan mengurangi ketergantungan impor. 

Di Indonesia, berita ini ramai dibahas di media seperti Detik Finance dan Tempo, dengan spekulasi dampak pada harga BBM lokal yang bisa turun jika produksi global melonjak. Hingga kini (11 Januari 2026), belum ada konfirmasi resmi dari perusahaan terkait, tapi Trump mengklaim kesepakatan sudah di tangan.

Next Post Previous Post