Prospek Cerah BMRI 2026: Target Harga Rp7.800 di Tengah Pemulihan Ekonomi

Prospek Cerah BMRI 2026: Target Harga Rp7.800 di Tengah Pemulihan Ekonomi
(Foto Saham BMRI dari Google Finansial)
Bank Mandiri (BMRI) memiliki prospek cerah untuk 2026 dengan target harga hingga Rp7.800, didukung pemulihan ekonomi Indonesia yang kuat dan kinerja fundamental bank yang solid. Analis melihat saham ini undervalued dengan potensi kenaikan signifikan dari level saat ini, terutama di tengah proyeksi pertumbuhan PDB 5,2% dan stimulus kebijakan moneter.

Target Harga dan Rekomendasi

Konsensus dari 22 analis menetapkan rata-rata target harga 12 bulan di kisaran Rp6.195 hingga Rp7.700, dengan puncak Rp7.800 dari IndoPremier Sekuritas yang menilai valuasi terlalu murah.

Verdhana Sekuritas memproyeksikan Rp7.500, sementara beberapa trading idea di TradingView bahkan menargetkan Rp8.000 jika momentum pasar IHSG positif.

Revisi terbaru dari NH Korindo Sekuritas (Januari 2026) menurunkan target ke Rp6.800 tapi tetap buy, dengan alasan normalisasi biaya kredit pasca-pemulihan NPL.

Potensi upside mencapai 21% dari harga akhir 2025, menjadikannya pilihan favorit di sektor perbankan besar (KBMI4).

Faktor Pemulihan Ekonomi

Ekonom Bank Mandiri optimis akselerasi pemulihan 2026 melalui konsumsi rumah tangga yang rebound, investasi infrastruktur, dan ekspor komoditas.

Penurunan BI Rate ke 4-4,25% akan dorong pertumbuhan kredit 8-10% YoY, dengan fokus pada segmen UMKM dan korporasi.

Stimulus fiskal pemerintah, termasuk bansos dan program hilirisasi, diharapkan pertahankan inflasi rendah dan stabilkan rupiah.

Ini sejalan dengan outlook global yang lebih stabil pasca-reeleksi Trump, meski risiko geopolitik tetap dipantau.

Proyeksi Keuangan BMRI

Manajemen memguidance pertumbuhan laba bersih 10-12% pada 2026, dengan ROE stabil di 17% dan NIM 4,8-5%.

Cost to Income Ratio (CIR) direvisi ke 40-42% setelah lonjakan sementara di 2025, berkat efisiensi digital dan integrasi Himbara.

Cost of Credit (CoC) rendah di 80-100 bps, LDR target 90%, dan NPL terkendali di bawah 3%.

Estimasi konsensus: EPS Rp418-450, dengan P/E forward 11-12x yang menarik dibanding peer seperti BBRI dan BBNI.

Risiko dan Strategi Investasi

Risiko utama termasuk perlambatan kredit jika BI Rate tak turun sesuai ekspektasi, serta fluktuasi yield SBN.

Investor disarankan akumulasi di level support Rp5.500-6.000 untuk target jangka menengah Rp7.000-7.800.

Sebagai content creator finance, pertimbangkan narasi "BMRI: Engine Pemulihan Ekonomi 2026" untuk artikel, dengan data real-time dari BRIsimo atau Stockbit.

Next Post Previous Post