Rekomendasi Saham BEI Tambang 2026: MDKA, ANTM, BRMS Siap Rally
| (Foto Saham BRMS dari Google Finansial) |
Fokus utama jatuh pada MDKA, ANTM, dan BRMS yang punya fundamental solid, cadangan besar, ekspansi proyek, serta rekam jejak rally di 2025 dengan proyeksi kenaikan 30-60% sepanjang tahun ini jika sentimen global tetap positif. Analis dari Bareksa, Maybank, dan CNBC Indonesia konsisten beri sinyal beli, terutama pasca-laporan Q4 2025 yang impresif.
MDKA: Raja Tembaga-Emas dengan Ekspansi Agresif
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menempati posisi terdepan berkat proyek unggulan Wetar Copper Mine di Maluku dan Sumbawa Gold Project yang produksinya naik 25% YoY di 2025, didukung teknologi smelter baru senilai Rp5 triliun.
Target harga analis mencapai Rp3.500-Rp4.000 per saham untuk 2026, dengan potensi upside 50% dari level Januari 2026 (sekitar Rp2.500), seiring defisit tembaga global 500 ribu ton akibat merger industri. Risiko utama volatilitas harga komoditas bisa dimitigasi dengan diversifikasi ke emas; volume perdagangan harian MDKA capai 100 juta lembar, tunjukkan likuiditas tinggi untuk investor ritel.
ANTM: Andalan Logam Mulia Nikel dengan Golden Cross
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diversifikasi luas di emas (Pongkor, Cibaliung), perak, dan nikel (proyek HPAL), dengan laba bersih Q4 2025 melonjak 40% berkat harga emas US$2.700/oz dan nikel baterai EV.
Rekomendasi beli dari Bareksa target Rp3.400+, didukung pola golden cross MA50-MA200 dan rencana akuisisi aset tambang baru di 2026 senilai US$200 juta. Saham ini cocok untuk hold jangka panjang karena dividen yield 4-5% dan exposure ke indeks Kompas 100, meski sensitif terhadap regulasi smelter nikel RI.
BRMS: Dark Horse Emas dengan Prospek M&A
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) jadi bintang emas 2025 dengan kinerja saham naik 120%, didorong tambang J Resources (Palu, Salu Opu) yang produksi 150 ribu oz emas dan potensi eksplorasi Papua.
Analis prediksi rally 40-60% di 2026 karena tren M&A aset tambang ramai pasca-merger global, plus biaya produksi rendah US$1.200/oz beri margin EBITDA 45%. Volume naik tajam pasca-Q4 earnings, ideal untuk swing trader; pantau resistance Rp500 untuk breakout.
Strategi Investasi dan Risiko 2026
Portofolio ideal: alokasikan 40% MDKA (tembaga growth), 35% ANTM (stabilitas dividen), 25% BRMS (high beta emas), dengan entry saat pullback 5-10% dari high 2025.
Faktor pendorong rally termasuk pemangkasan produksi batubara global (dukung energi alternatif), suku bunga BI rendah 5,5%, dan kebijakan Trump pro-tambang AS. Risiko: gejolak geopolitik Chile-Peru (50% suplai tembaga dunia), regulasi ekspor RI, dan koreksi komoditas jika resesi global—selalu gunakan stop-loss 15% dan diversifikasi 20% ke saham defensif seperti UNTR atau TINS. Pantau laporan Januari 2026 untuk konfirmasi momentum.

