RLCO: Saham Sarang Walet Melejit 2.876% Sejak IPO

RLCO: Saham Sarang Walet Melejit 2.876% Sejak IPO

IHSG dibuka positif pada Selasa, 13 Januari 2026, dengan kenaikan moderat sekitar 0,67% ke level awal 8.931-8.946, didukung inflow investor asing yang kembali aktif setelah volatilitas akhir pekan lalu. Aktivitas ini mencerminkan kepercayaan pada pemulihan pasar domestik, sejalan dengan tren bursa Asia dan rekor Wall Street. Berikut analisis lebih mendalam mengenai performa RLCO sebagai salah satu saham top gainer potensial di tengah sentimen positif ini.

Performa RLCO Terkini

RLCO: Saham Sarang Walet Melejit 2.876% Sejak IPO
(Foto Saham RLCO dari Google Finansial)
Saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), emiten sarang burung walet pasca-IPO Desember 2025, mencatat kenaikan spektakuler hingga 24,69% dalam sesi baru-baru ini, menyentuh level Rp5.000 per saham. 

Sejak debut di Rp150 per lot, harga melonjak lebih dari 2.876% secara kumulatif, dengan rekor 18 kali Auto Reject Atas (ARA) berturut-turut yang mengalahkan prestasi CDIA. Investor ritel "pejuang 1 lot" meraup untung rata-rata 950% hanya dalam akhir Desember 2025, mendorong kapitalisasi pasar ke Rp15,62 triliun pada puncaknya.

Keuntungan Fundamental Jangka Panjan

Perusahaan menargetkan laba bersih Rp40 miliar dan pendapatan Rp700 miliar sepanjang 2026, naik dua digit dari proyeksi 2025 (Rp30 miliar laba, Rp600 miliar pendapatan). Laba Q1 2026 sudah melonjak 608% YoY menjadi Rp12,3 miliar, didukung utilisasi pabrik di atas 60% berkat dana IPO Rp105 miliar yang dialokasikan untuk modal kerja dan bahan baku. 

Ekspor olahan sarang walet ke Vietnam sudah berjalan, Thailand direncanakan Q2 2026, dan AS di Q4 2026, dengan kontribusi ekspor diproyeksi 80-90% dari total pendapatan—potensi multiplier keuntungan bagi pemegang saham jangka panjang.

Faktor Pendorong & Risiko

Oversubscribe IPO hingga 948 kali menandakan antusiasme tinggi, ditambah sentimen positif IHSG hari ini di mana asing net buy Rp101,97 miliar secara keseluruhan (Rp205 miliar di pasar reguler), fokus pada sektor konsumsi dan komoditas seperti ANTM dan BBRI yang serupa dengan profil RLCO.

Namun, volatilitas ARA berisiko koreksi tajam jika euforia redup, terutama dengan proyeksi IHSG yang rentan break support 8.870 menuju 8.700. Analis sarankan hold untuk target Rp6.000+ jika fundamental ekspor terealisasi, tapi cut loss di bawah Rp3.500 untuk lindungi profit.

Strategi Investasi RLCO

Entry Point: Beli di pullback 10-15% dari Rp5.000 (Rp4.250-4.500) untuk risk-reward optimal, hindari chase high di tengah euforia.

Target Jangka Pendek: Rp5.500 (resistance ARA berikutnya), dengan stop loss Rp4.000.

Jangka Panjang (2026): Hold hingga Rp8.000+ jika laba Q2 capai Rp15 miliar, diversifikasi 20-30% portofolio di saham serupa seperti konglo atau perkapalan.

Rekomendasi Tambahan: Pantau net buy asing harian via BEI; kombinasikan dengan saham blue chip seperti TLKM untuk stabilisasi.

Prospek RLCO cerah di tengah rebound IHSG, tapi diversifikasi tetap kunci mengingat sektor niche sarang walet rentan fluktuasi harga komoditas global.

 

Next Post Previous Post