Saham BUMI Terpuruk: Strategi Serok di Titik Terendah untuk Profit Maksimal
Saham BUMI sedang terpuruk di kisaran Rp 348-350 per saham per 23 Januari 2026, dipicu aksi jual besar-besaran investor asing dan domestik seperti Treasure Global serta Cheng terkait divestasi. Penurunan ini mencapai lebih dari 7% dalam sesi baru-baru ini, dengan tekanan net sell asing Rp 217 miliar pada 19 Januari. Meski volatil, level ini dekat support kuat Rp 340-350, berpotensi jadi titik serok untuk trader jangka pendek.
Penyebab Penurunan
Aksi jual agresif investor besar mendominasi, termasuk penjualan ratusan juta lembar saham oleh Cheng sejak Desember 2025 hingga Januari 2026, menghimpun dana hingga Rp 6,91 triliun.
Faktor lain meliputi pemangkasan target produksi batubara akibat cuaca buruk dan lemahnya permintaan pasar, plus peningkatan saham beredar pasca-issuance obligasi. Analisis teknikal menunjukkan tren bearish dengan seller dominan dan PSAR bearish.
Analisis Fundamental
BUMI overvalued dengan PBV 1.69x dan EPS belum positif konsisten, meski DER rendah (0.2x) dan laba positif 3 tahun berturut-turut. Prospek 2026 cerah dengan diversifikasi non-batubara (target EBITDA 10% di 2025), potensi masuk MSCI Februari, dan kinerja 1H25 pendapatan naik 14% YoY. Namun, profitabilitas lemah (NPM 6.18%, ROE 4.41%) dan volatilitas tinggi dari bisnis batubara.
Strategi Serok di Titik Rendah
| (Foto Saham BUMI dari Google Finansial) |
Risiko dan Rekomendasi
Risiko tinggi dari net sell lanjutan asing (Rp 1T+ akhir pekan lalu) dan overbought RSI sebelumnya. Lebih aman untuk jangka panjang tunggu konfirmasi MSCI atau diversifikasi terbukti; ritel prioritaskan posisi kecil (1-2% portofolio). Bukan ajakan beli, konsultasikan analis bersertifikat.

