Sempat Tertekan Isu MSCI, Saham Perbankan Berbalik Menguat

Sempat Tertekan Isu MSCI, Saham Perbankan Berbalik Menguat

Saham perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat mengalami tekanan berat akibat sentimen negatif dari penyesuaian indeks MSCI, tetapi berhasil rebound menguat pada perdagangan 29-30 Januari 2026 berkat respons regulator dan fundamental solid. Pemulihan ini menjadi sinyal positif bagi investor ritel dan institusional yang sempat panik.

Kronologi Tekanan MSCI

MSCI mengeluarkan pernyataan terkait ketidaksesuaian data free float dan kepemilikan saham di emiten Indonesia, memicu aksi jual masif investor asing senilai Rp20-30 triliun dalam dua hari.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 10% intraday pada 28 Januari, dengan saham big caps perbankan seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan BBRI turun 5-15% karena kekhawatiran delisting dari indeks global.

Sentimen ini diperparah laporan Goldman Sachs yang memangkas rating saham RI menjadi underweight, menambah ketidakpastian pasar emerging di Asia Tenggara.

Faktor Pemulihan Cepat

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI langsung merespons dengan komitmen audit transparansi data free float hingga Maret 2026, plus rencana kenaikan minimum free float menjadi 15% untuk hindari downgrade status pasar.

Transaksi rebound didominasi pembelian domestik dan short-covering asing, dengan volume IHSG mencapai Rp25 triliun pada 29 Januari saat indeks tutup naik 1,06% ke level 6.800-an.

Saham BCA (BBCA) paling menonjol, naik 2,49% ke Rp7.200 dengan nilai dagang Rp9,8 triliun—tertinggi sepanjang hari—didukung program buyback Rp5 triliun dan rasio LaR (kredit bermasalah) turun ke 4,8% di Q4 2025.

Performa Saham Perbankan Utama

Berikut tabel pergerakan saham perbankan kunci pada rebound 29 Januari 2026 dibanding penurunan sebelumnya:

Saham

Harga Tutup 27/1 (Rp)

Harga Tutup 29/1 (Rp)

% Perubahan

Nilai Transaksi (Rp T)

BBCA

7.025

7.200

+2,49%

9,8

BMRI

14.500

14.900

+2,76%

4,2

BBNI

5.200

5.350

+2,88%

3,1

BBRI

4.850

4.950

+2,06%

2,9


Analisis Fundamental Pendukung

Sektor perbankan tetap kuat dengan CAR (Capital Adequacy Ratio) rata-rata 20-25%, NPL terkendali di bawah 3%, dan pertumbuhan kredit 12-15% YoY meski suku bunga BI 7Rate (BI Rate) stabil di 6%.

Analis BCA Sekuritas dan Mandiri Sekuritas merekomendasikan "buy on weakness" untuk BBCA dengan target Rp8.000-11.400, ROE 20%+, dan valuasi PBV 2,2x—terendah di ASEAN peers.

Prospek 2026 cerah dengan dividend yield 5-7%, ekspansi digital banking, dan stimulus fiskal pemerintah pasca-reeleksi Trump yang dorong aliran modal ke emerging markets.

Strategi Investor

Short-term: Akumulasi di level support IHSG 6.500-6.700, pantau net sell asing di bawah Rp1 triliun/hari.

Medium-term: Fokus BBCA dan BBNI untuk diversifikasi, hindari saham dengan free float di bawah 10%.

Risiko: Jika MSCI tunda rebalancing hingga Juni, volatilitas bisa kembali; diversifikasi ke sukuk atau emas.

Pemulihan ini tunjukkan ketahanan pasar domestik Indonesia, dengan potensi IHSG capai 7.500 akhir Q1 jika transparansi data terealisasi cepat.
Next Post Previous Post