AS Tembak Jatuh Drone Iran, Perundingan Tetap Akan Digelara
Kronologi Insiden
Pada 3 Februari 2026, jet tempur siluman F-35C milik AS dari kapal induk USS Abraham Lincoln berhasil menembak jatuh drone Iran tipe Shahed-139 di perairan Laut Arab, sekitar 800 km dari pantai selatan Iran. Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), drone tersebut mendekati aset militer AS secara agresif dan sempat mengirim data ke Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sebelum kontak terputus. Iran belum mengonfirmasi secara resmi, hanya menyebut adanya gangguan komunikasi pada salah satu drone mereka, sementara Gedung Putih mengonfirmasi kejadian tersebut sebagai tindakan pertahanan diri.
Insiden ini terjadi di tengah peningkatan kehadiran armada laut AS di wilayah tersebut, pasca-serangan AS tahun lalu terhadap situs nuklir Iran. Video yang beredar menunjukkan aksi dramatis jet F-35C menghancurkan target, yang disebut sebagai respons cepat untuk mencegah ancaman potensial terhadap kapal induk nuklir AS.
Status Perundingan Diplomatik
Meski insiden memanas, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa perundingan tetap akan digelar, dipimpin oleh Utusan Khusus AS Steve Witkoff. Pertemuan dijadwalkan pada akhir pekan ini, kemungkinan 6-7 Februari di Istanbul, Turki, meskipun Iran mengusulkan Oman sebagai lokasi alternatif. Presiden Donald Trump, yang baru saja dilantik kembali, menekankan prioritas diplomasi untuk mencegah konflik meluas, sambil menjaga opsi militer terbuka.
Pemerintah Iran di bawah Presiden Masoud Pezeshkian juga menyatakan kesiapan untuk bernegosiasi secara adil mengenai program nuklir mereka. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut insiden drone sebagai "provokasi", tapi tidak akan menghalangi upaya damai. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru memperingatkan agar tidak mempercayai Teheran saat bertemu Witkoff, menambah dinamika kompleks di kawasan.
Konteks Lebih Luas
Peristiwa ini mencerminkan ketegangan berkepanjangan AS-Iran pasca-reeleksi Trump pada November 2024, di mana ia mendorong kesepakatan nuklir baru. Iran baru saja menekan demonstrasi internal, sementara AS memperkuat posisi militer di Teluk Persia untuk mengawal jalur perdagangan minyak. Analis internasional melihat insiden ini sebagai ujian bagi diplomasi Trump, karena meski militer AS bertindak tegas, tidak ada eskalasi langsung yang membatalkan negosiasi.
Secara regional, Laut Arab menjadi hotspot karena kedekatannya dengan Selat Hormuz, rute vital 20% pasokan minyak dunia. Harga minyak sempat naik tipis pasca-insiden, tapi stabil berkat sinyal diplomasi positif dari kedua belah pihak. Pengamat memantau apakah perundingan ini bisa meredakan ancaman konflik lebih lanjut.

