Muncul Dugaan Bullying di Kasus Bunuh Diri Bocah SD NTT
Kasus bunuh diri siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, memunculkan dugaan bullying sebagai salah satu faktor pemicu, di samping kemiskinan dan masalah pengasuhan. Polisi sedang menyelidiki motifnya secara mendalam, termasuk memeriksa guru dan pihak sekolah, meski hasil visum tidak menunjukkan tanda kekerasan fisik.
Kronologi Kejadian
Seorang bocah berusia sekitar 10 tahun ditemukan tewas gantung diri di pondok neneknya pada awal Februari 2026. Korban sempat meminta uang ke ibunya untuk beli buku dan pena, tapi ditolak karena kondisi ekonomi keluarga yang sulit; ayahnya sudah meninggal sejak korban masih di kandungan. Malam sebelumnya, ibu korban menasihatinya agar rajin sekolah meski sering bolos dengan alasan sakit.
Dugaan Bullying
KPAI menduga korban mengalami perundungan di sekolah karena tidak punya alat tulis, yang memperparah tekanan emosional. Mereka meminta polisi usut tuntas, bukan hanya faktor ekonomi, karena bullying sering jadi pemicu bunuh diri anak sejak 2023. Polisi menyebut motif sementara adalah putus asa murni dari niat korban.
Respons Otoritas
Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino menjanjikan penyelidikan profesional. KPAI menyerukan Indonesia sebagai "darurat bunuh diri anak" dan dorong investigasi menyeluruh oleh DPR. Keluarga korban digambarkan kekurangan kasih sayang orang tua, dengan korban tinggal bersama nenek berusia 80 tahun.

