Asing Terpantau Serok Saham AMMN, Bagaimana Prospeknya di Tahun 2026?
Investor asing semakin gencar mengakumulasi saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dengan net buy signifikan yang terpantau baru-baru ini. Aktivitas ini menandakan kepercayaan tinggi terhadap prospek perusahaan tambang tembaga dan emas ini di tengah pemulihan pasar komoditas.
Profil Perusahaan AMMN
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) merupakan perusahaan holding yang mengoperasikan tambang tembaga-emas terintegrasi, terutama Tambang Batu Hijau di Nusa Tenggara Barat. Melalui anak usahanya, AMMN fokus pada eksplorasi, penambangan, dan pemrosesan konsentrat tembaga serta emas, dengan rencana ekspansi smelter untuk hilirisasi.
Kinerja keuangan AMMN menunjukkan pertumbuhan kuat di masa lalu, dengan pendapatan melonjak 138% menjadi US$2,83 miliar pada 2022 berkat peningkatan volume emas dan tembaga. Namun, tahun 2025 mengalami tantangan dengan revisi proyeksi rugi, meski optimisme rebound tetap terjaga.
Aktivitas Investor Asing
Investor asing mendominasi pembelian saham AMMN, dengan empat dari lima pembeli terbesar berupa broker asing seperti BK, ZP, AK, dan KZ yang mencatat net buy hingga Rp666,6 miliar. Smart money flow dinilai bullish kuat, meski ada tekanan distribusi dari insider lokal.
Baru-baru ini, asing borong saham AMMN di tengah fluktuasi IHSG, termasuk net buy Rp102,7 miliar pada sesi perdagangan Februari 2026. Institusi seperti Vanguard Group Inc. telah menjadi pemegang saham besar sejak listing 2023, dengan akumulasi kumulatif mencapai triliunan rupiah.
Harga saham AMMN saat ini berkisar Rp7.200-Rp7.700, dengan volume tinggi dan pola akumulasi yang menekan koreksi.
Prospek 2026
| (Foto Harga Saham AMMN dari Google Finansial) |
Analis mempertahankan rekomendasi BUY, dengan target harga Rp8.700-Rp11.000 (potensi upside 52%), didukung proyeksi laba bersih US$352 juta hingga US$1 miliar. EBITDA margin diproyeksikan >50% saat capex menurun, membuka peluang dividen jumbo di 2027.
|
Faktor Positif |
Dampak pada Saham |
|
Peningkatan produksi Phase 8 |
Lonjakan volume tembaga & emas |
|
Optimalisasi smelter |
Nilai tambah hilirisasi, katoda pertama 2025 |
|
Harga komoditas kuat |
Tembaga naik 20%, permintaan China |
|
Akumulasi asing |
Net buy berkelanjutan, bullish flow |
Risiko utama termasuk volatilitas harga komoditas global dan tekanan distribusi lokal, tapi sinyal asing mendominasi narasi positif.

