BlackRock Kembali Pangkas Saham BUMI, Bagaimana Dampaknya ke Pasar?
Detail Perubahan Kepemilikan BlackRock
Pada akhir Januari 2026, BlackRock masih memegang sekitar 1,95 miliar lembar saham BUMI, tetapi data terbaru menunjukkan penurunan menjadi sekitar 1,92 miliar lembar per 11 Februari.
Penyesuaian ini terjadi secara bertahap pada awal bulan, bersamaan dengan aksi serupa dari investor institusional lain seperti Van Eck, State Street, dan Dimensional Fund Advisors yang juga memangkas posisi pada periode 2-9 Februari.
Faktor pemicunya termasuk aksi jual bersih asing senilai miliaran rupiah, dipicu oleh koreksi harga saham setelah kenaikan sementara 20% pada 3 Februari, serta arus keluar dana asing dari pasar emerging seperti Indonesia akibat ketidakpastian kebijakan moneter global.
Dampak Langsung ke Harga Saham BUMI
| (Foto Saham BUMI dari Google Finansial) |
Volume transaksi menurun drastis, mencerminkan berkurangnya kepercayaan investor ritel dan institusional terhadap prospek jangka pendek, meskipun fundamental perusahaan seperti pendapatan 9M25 yang naik 11,9% tetap menjadi penopang.
Analis dari berbagai sumber memperkirakan target harga jangka menengah di kisaran Rp600-Rp1.000, tergantung pemulihan harga batubara dan efisiensi operasional BUMI di proyek-proyek mineralnya.
Efek Lebih Luas ke Pasar Saham Indonesia
Secara keseluruhan, aksi BlackRock memicu sentimen negatif di sektor komoditas, khususnya batu bara, yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan saham-saham terkait seperti BRMS atau ADRO.
Pasar mengalami volatilitas tinggi dengan net sell asing mencapai Rp2,3 triliun di periode tersebut, memperburuk tekanan dari faktor eksternal seperti rebalancing indeks MSCI dan ekspektasi kebijakan Trump yang proteksionis terhadap impor energi.
Namun, di sisi positif, ini membuka peluang bagi investor oportunis seperti Vanguard yang justru akumulasi saat panic selling, menandakan potensi rebound jika harga komoditas global pulih atau BUMI berhasil ekspansi produksi.

