Saham Konglomerat Wajib Pantau 2026: Mana yang Masih Murah dan Siap Diborong?

Saham Konglomerat Wajib Pantau 2026: Mana yang Masih Murah dan Siap Diborong?

Saham konglomerat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap menjadi primadona investor ritel dan institusional di 2026, terutama karena banyak yang masih undervalued berdasarkan metrik PBV (Price to Book Value) rendah dibanding historis. 

Dengan proyeksi IHSG tembus 8.000-9.000 poin didorong inflow asing MSCI dan pemulihan ekonomi pasca-2025, saham-saham ini siap diborong untuk jangka panjang, asal pantau rotasi sektor energi, properti, dan otomotif.

Deretan Saham Undervalued Teratas

Saham Konglomerat Wajib Pantau 2026: Mana yang Masih Murah dan Siap Diborong?
(Foto Saham UNTR dari Google Finansial)
Beberapa saham konglomerat menawarkan diskon PBV ekstrem, menjadikannya bargain untuk akumulasi bertahap.

Kode Saham

Grup Konglomerat

PBV Saat Ini

PBV Rata-rata 5 Tahun

Diskon (%)

Alasan Borong

TOWR

Barito (Prajogo)

1,25x

3,60x

65,3

Divestasi aset energi, potensi rebound batu bara global

ERAA

Sinar Mas

0,75x

1,17x

35,9

Ekspansi logistik murah, dukung e-commerce

ASII

Astra

0,87x

1,50x

42,0

GIIAS 2026 & inflow MSCI, otomotif hybrid

UNTR

Astra

0,86x

1,20x

28,3

Tambang nikel stabil, ekspor ke EV China

CTRA

Ciputra

0,90x

1,40x

35,7

Properti suburban boom pasca-suku bunga turun

BRMS

Bakrie

1,10x

1,80x

38,9

Nikel & emas naik 200%+ YTD 2025, volatil tapi prospektif


Diskon dihitung per Januari 2026; TOWR paling menonjol karena eksposur energi transisi.

Analisis Grup Konglomerat Utama

Grup Prajogo Pangestu (TPIA, BRPT, CUAN, TOWR)

Dominan di petrokimia dan energi, grup ini capai market cap Rp1.000T+ di 2025. TOWR undervalued karena koreksi harga minyak, tapi siap rally dengan IPO SPMP (nikel) dan divestasi ARII. BRPT prospektif di tekstil berkelanjutan, target PBV naik ke 2x akhir 2026. Risiko: Fluktuasi komoditas global.

Grup Astra International (ASII, UNTR, ASGR, AUTO)

Raja otomotif dengan PBV grup rata-rata 0,8x, didorong GIIAS 2026 dan penjualan EV/toyota hybrid. UNTR untung besar dari nikel EV battery, ASGR (asuransi) murah di 0,61x. Prospek stabil berkat diversifikasi ke alat berat dan keuangan, inflow MSCI hingga Rp10T.

Grup Bakrie (BUMI, BRMS, ADRO)

Volatil tapi high-reward; BRMS naik 217% di 2025 berkat nikel-emas, BUMI rebound via akuisisi Freeport. PBV murah karena sentimen utang lama, tapi komoditas bull run 2026 (nikel US$20k/ton) bikin prospektif. Pantau utang refinancing Q1 2026.

Grup Lain (Sinar Mas, Ciputra, Barito)

ERAA dan SMGR (semen) murah untuk infrastruktur Jokowi 2.0 extension. CTRA dan PWON ideal properti murah dengan BI Rate turun ke 5,5%. IPO konglomerat baru (1-6 emiten, katanya Dirut BEI) potensial dari grup ini.

Strategi Investasi 2026

Timing Borong: Akumulasi di dip pasar (target Q1-Q2 saat rotasi ke tech), jual di Q4 rally IPO.

Metrik Pantau: PBV <1x prioritas, PER <10x, DER <0,5x; gunakan RTI/TradingView untuk screener.

Risiko: Rotasi sektor (energi ke consumer), inflasi 3-4%, geopolitik Timur Tengah. Diversifikasi 30% konglomerat, 40% bluechip, 30% IPO.

Proyeksi: IHSG +15-20%, konglomerat outperform indeks 25%+ jika komoditas stabil.

Pantau update harian via IDX atau CNBC Indonesia untuk konfirmasi earnings Q1. 

Next Post Previous Post