Dampak Tarif AS-Indonesia 19%: Sektor Apa yang Paling Diuntungkan dan Dirugikan?
Kesepakatan tarif resiprokal AS-Indonesia sebesar 19% menciptakan dinamika beragam di berbagai sektor ekonomi Indonesia. Kebijakan ini menurunkan tarif dari ancaman 32% sebelumnya, memberikan kepastian bagi ekspor sambil membuka impor murah dari AS.
Latar Belakang Kesepakatan
Kesepakatan ini diraih melalui negosiasi intensif sejak April 2025, dengan Indonesia mengamankan tarif 0-10% untuk 1.819 produk ekspor unggulan seperti tekstil, pertanian, dan elektronik ke AS. Sebagai imbalan, produk AS seperti energi, pertanian, dan farmasi masuk Indonesia dengan tarif rendah atau nol, berpotensi meningkatkan impor hingga miliaran dolar. Analis memetakan dampaknya pada pasar modal, di mana kepastian tarif 19% menjadi sentimen positif bagi investor domestik.
Sektor yang Diuntungkan
Sektor energi konvensional seperti batu bara dan gas berpotensi mendapat peluang besar karena preferensi kebijakan AS yang mendukung komoditas ini.
Crude palm oil (CPO) dikecualikan dari tarif, menjaga daya saing sawit Indonesia di pasar AS yang lebih efisien dibanding minyak nabati lain.
Sektor keuangan, khususnya perbankan, tetap solid berkat likuiditas domestik yang kuat sebagai bantalan global, sementara peternakan, pangan, otomotif (suku cadang), dan kesehatan juga diuntungkan dari tarif kompetitif atau impor medis murah.
|
Sektor Diuntungkan |
Alasan Utama |
Contoh Emiten/Manfaat |
|
Energi (batu bara, gas) |
Preferensi kebijakan AS |
Ekspor naik |
|
CPO/Sawit |
Dikecualikan tarif |
Kompetitif di AS |
|
Perbankan |
Likuiditas kuat |
Bantalan risiko |
|
Otomotif (suku cadang) |
Lebih murah vs China/Meksiko |
AUTO, DRMA |
|
Kesehatan |
Impor medis efisien |
MIKA, SILO, HEAL |
Sektor yang Dirugikan
Sektor ekspor manufaktur seperti tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, dan elektronik menghadapi tekanan karena tarif 19% menekan volume ekspor ke AS.
Perikanan, termasuk udang, berisiko penurunan ekspor, memperlemah surplus perdagangan Indonesia.
Impor murah AS di sektor teknologi, pertanian, otomotif, dan farmasi mengancam industri lokal yang kalah saing, potensial menekan produksi dan lapangan kerja.
|
Sektor Dirugikan |
Alasan Utama |
Dampak Potensial |
|
Tekstil/Garmen |
Tarif 19% tekan ekspor |
Penurunan volume |
|
Perikanan/Udang |
Risiko pasar AS |
Ekspor menyusut |
|
Manufaktur (elektronik, furnitur) |
Kompetisi impor AS |
Tekanan produksi |
|
Pertanian/Energi Lokal |
Banjir produk AS murah |
Kalah saing |
Implikasi Ekonomi Lebih Luas
Kesepakatan ini dianggap "huge wins" untuk industri padat karya Indonesia, mendukung lapangan kerja hingga 20 juta orang di sektor ekspor prioritas. Namun, pelemahan ekspor keseluruhan bisa menyempitkan neraca perdagangan, meski mitigasi risiko ada melalui kepastian tarif. Pemerintah optimis relokasi industri dan investasi akan meningkat sebagai respons positif.

