Dirut Indonesia Tobacco (ITIC) Djonny Saksono Tambah 188.800 Saham, Ini Tujuannya
Djonny Saksono, sebagai Direktur Utama PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC), baru saja menambah kepemilikan sahamnya sebanyak 188.800 lembar pada 2 Februari 2026. Tujuan utama transaksi ini adalah untuk kepentingan investasi pribadi, yang mencerminkan kepercayaan dirinya terhadap prospek jangka panjang perusahaan rokok kretek terkemuka ini.
Rincian Transaksi
Transaksi pembelian dilakukan secara langsung dengan harga rata-rata Rp 307 per saham, sehingga total nilainya mencapai sekitar Rp 57,96 juta. Sebelum pembelian ini, Djonny Saksono memegang 642.842.000 saham atau setara 68,34% dari total saham beredar ITIC.
Kini, kepemilikannya meningkat menjadi 643.030.800 saham, atau 68,36%, yang memperkuat posisinya sebagai pengendali utama perusahaan. Pengungkapan ini sesuai dengan kewajiban Bursa Efek Indonesia (BEI) bagi pemegang saham pengendali.
Pola Akumulasi Terkini
Pembelian ini bukan yang pertama; Djonny Saksono tampak agresif mengakumulasi saham ITIC sepanjang awal 2026. Baru-baru ini, ia membeli 172.300 saham pada 29 Januari 2026 (Rp 309/saham) dan 74.200 saham pada 30 Januari 2026 (Rp 328/saham), keduanya juga untuk tujuan investasi. Pola ini menunjukkan strategi jangka panjang untuk meningkatkan stake, meskipun harga saham ITIC mengalami fluktuasi.
Konteks Perusahaan dan Performa Saham
| (Foto Saham ITIC dari Google Finansial) |
Namun, secara year-to-date (YTD), saham ini melemah 7,22%, dipengaruhi oleh tekanan regulasi cukai rokok dan dinamika pasar konsumen. Meski begitu, akumulasi oleh Dirut ini bisa menjadi sinyal positif bagi investor ritel yang memantau sentimen insider trading.
Implikasi Investasi
Tindakan Djonny Saksono ini sering dilihat sebagai indikator optimisme terhadap fundamental ITIC, termasuk potensi dividen stabil dan pangsa pasar yang kuat di tengah industri tembakau yang kompetitif. Investor disarankan memantau laporan keuangan kuartal I 2026 untuk melihat dampaknya terhadap kinerja perusahaan, mengingat riwayat akumulasi serupa sejak akhir 2025 yang telah mendorong stabilitas harga saham di masa lalu.

