Top 7 Saham Bank Favorit Investor Besar, Siap Naik 50% Tahun Ini?

Top 7 Saham Bank Favorit Investor Besar, Siap Naik 50% Tahun Ini?

Sektor perbankan Indonesia tetap menjadi magnet utama bagi investor besar seperti manajer reksa dana dan whale institusional di awal 2026, didorong oleh pemulihan ekonomi pasca-pandemi, penurunan suku bunga BI, dan fundamental kuat big banks. 

Meski mengalami koreksi teknikal di pembuka tahun, analis dari RHB Sekuritas, Mirae Asset, hingga Mandiri Sekuritas memproyeksikan potensi kenaikan hingga 50% untuk saham-saham pilihan ini, berkat pertumbuhan laba bersih 12-15% dan valuasi yang masih undervalued dibandingkan rata-rata historis.

Mengapa Saham Bank Jadi Favorit di 2026?

Investor besar, termasuk reksa dana indeks LQ45 dan dana asing, mengalokasikan 25-35% portofolio mereka ke saham bank karena kontribusi sektor ini mencapai 25% kapitalisasi BEI. Faktor pendorong utama meliputi:

Pemulihan Kredit dan CASA: Penurunan NPL ke bawah 3% dan pertumbuhan kredit 10-12% YoY, terutama di segmen ritel dan UMKM.

Digitalisasi Agresif: Bank-bank besar sudah matang dengan super app, AI lending, dan embedded finance, tingkatkan efisiensi hingga 20%.

Sentimen Makro: Proyeksi BI Rate turun ke 5-5.5%, stimulus fiskal pemerintah, dan inflow asing Rp50-70 triliun sepanjang tahun.

Dividen Yield Tinggi: Rata-rata 4-6%, lebih atraktif daripada obligasi saat ini.

Data portofolio reksa dana per Oktober 2025 menunjukkan BBCA, BMRI, dan BBRI mendominasi 60% alokasi saham bank, diikuti BBNI dan lainnya.

Daftar Lengkap Top 7 Saham Bank

Berikut breakdown mendalam untuk 7 saham paling diburu, berdasarkan rekomendasi overweight/beli dari analis dan kinerja Q4 2025:

No

Kode Saham

Profil Singkat & Keunggulan

Kinerja 2025 (YoY)

Target Harga 2026 (Rp)

Potensi Upside

Alasan Investor Besar Buru

1

BBCA

Raja ritel, 40jt+ nasabah digital, ROE 25%+

Laba +15%, Kredit +11%

10.500-11.000

+40-50%

CASA termahal Rp0, CASA ratio 80%, ekspansi QRIS

2

BMRI

Kuat korporasi & treasury, aset Rp1.700T

Laba +13%, NPL 1.8%

7.000-7.500

+35-45%

Transformasi Mandiri Gio, akuisisi Mirae, valuasi PBV 1.8x

3

BBRI

Dominasi UMKM 30% pangsa pasar

Laba +12%, Dividen 6%

4.800-5.200

+30-50%

Bri Brillant Future, ekspansi ke 100rb desa digital

4

BBNI

Proyek TB Bidara, ekspansi ASEAN

Laba +14%, Kredit korporasi +16%

5.500-6.000

+35-45%

BNI Direct, partnership fintech global

5

BBTN

Spesialis KPR subsidi, properti rebound

Laba +18%, NPL turun ke 4%

1.600-1.800

+40-55%

FLPP 2026 Rp110T, valuasi murah PBV 1.2x

6

BRIS

Syariah pure play, pertumbuhan 20%+

Laba +22%, AUM +25%

2.200-2.500

+30-45%

BRISys, target market share syariah 15%

7

BBYB

Bank digital generasi baru, profit first

Laba break even Q4, user 10jt+

800-1.000

+50-70%

BUS (Bank Digital), margin NIM 6%+, volatil tapi high reward


Analisis Prospek Kenaikan 50%: Realistis atau Hype?

Ya, potensi 50% bukan isapan jempol. Skenario base case:

Katalis Q1-Q2: Rapat BI Rate Maret, laporan Q1 laba beat estimasi 10%, inflow FII Rp20T.

Valuasi Saat Ini: Big 4 (BBCA-BBNI) PBV rata-rata 1.7x vs historis 2.2x; bank kecil seperti BBTN di 1.1x.

Proyeksi Laba: Sektor bank laba Rp280T di 2026 (+12%), didukung NIM ekspansi 20-50bps.

Contoh Historis: Pada 2021-2022, BBCA naik 60% dari level serupa.
Grafik IHSG bank index diprediksi rebound dari support 7.200 ke resistance 9.000 akhir tahun.

Risiko yang Perlu Diwaspadai

Meski cerah, ada jebakan:

NPL Spike: Potensi kenaikan di segmen konsumsi jika resesi global (risiko 20%).

Regulasi BI: BI Rate tak turun seperti ekspektasi, tekan margin.
Koreksi Pasar: Awal 2026 sudah turun 5-10%, tapi support kuat di MA200.

Kompetisi Fintech: GoTo, OVO erosi low-end nasabah, tapi bank besar aman.

Strategi Investasi ala Investor Besar

Entry Point: Beli di dip 5-10% dari harga saat ini (BBCA <Rp9.000, BBRI <Rp4.000).

Alokasi: 20% BBCA/BMRI (safe haven), 30% BBRI/BBNI (growth), 20% bank kecil (high beta), sisanya cash.

Horison: 6-12 bulan, ambil profit bertahap di target 30% dan trailing stop 10%.

Tools: Pantau via RTI/TradingView, ikuti earning call Q1 28 April 2026.

Diversifikasi: Pasangkan dengan emas atau SBN untuk hedge.

Pantau update BEI dan laporan keuangan Q1 untuk timing sempurna. Investasi ini cocok untuk portofolio agresif dengan risk appetite tinggi – DYOR dan konsultasikan dengan advisor berlisensi OJK!
Next Post Previous Post