Grab Singapore Bertaruh pada AI dan Layanan Baru untuk Tiga Kali Lipat Keuntungan hingga 2028

Grab Singapore Bertaruh pada AI dan Layanan Baru untuk Tiga Kali Lipat Keuntungan hingga 2028

Grab, perusahaan ride-hailing dan pengiriman terkemuka di Asia Tenggara, mengandalkan kecerdasan buatan (AI) serta layanan baru seperti belanja groceries online dan produk keuangan untuk melipatgandakan keuntungannya pada 2028. Presiden sekaligus COO Grab, Alex Hungate, menyatakan target ini dalam wawancara dengan Reuters di markas perusahaan di Singapura.

Target Keuangan Ambisius

Grab menargetkan pertumbuhan pendapatan tahunan lebih dari 20% selama tiga tahun ke depan, dengan EBITDA mencapai 1,5 miliar dolar AS pada 2028. 

Ini merupakan lompatan besar dari keuntungan bersih penuh tahun pertama mereka di 2025, setelah 14 tahun berdiri dan mengumpulkan dana miliaran dolar. Meski begitu, proyeksi pendapatan dan EBIT 2026 belum memenuhi ekspektasi Wall Street, menyebabkan saham Grab turun lebih dari 15% tahun ini.

Strategi Berbasis AI dan Super-App

Sektor ride-hailing di Asia Tenggara bergeser dari subsidi ke profitabilitas, dengan Grab memanfaatkan AI untuk mengintegrasikan layanan transportasi, pengiriman makanan, dan groceries dalam satu aplikasi. 

Hungate menekankan efisiensi infrastruktur pengiriman untuk menawarkan bundel layanan berbiaya rendah, memanfaatkan frekuensi penggunaan tinggi aplikasi Grab. Grab juga mengembangkan agen AI khusus untuk meningkatkan loyalitas pelanggan, mitra pengemudi, dan merchant, bekerja sama dengan OpenAI tapi membangun agen proprietary alih-alih menggunakan ChatGPT.

Ekspansi Layanan Keuangan dan Geografis

Beroperasi di lebih dari 900 kota di Asia Tenggara, Grab memperluas layanan keuangan dengan analisis data superior untuk underwriting pinjaman dibanding bank tradisional. 

Perusahaan baru saja mengakuisisi platform manajemen kekayaan AS bernama Stash untuk ekspansi di luar wilayah. Prioritas utama adalah reinvestasi di Asia Tenggara untuk pertumbuhan organik, meski terbuka untuk akuisisi selektif; tidak ada rencana listing sekunder atau merger dengan GoTo Indonesia saat ini.

Tantangan dan Risiko

Huatai Securities memperingatkan bahwa investasi di kendaraan otonom dan AI bisa memengaruhi profitabilitas, ditambah risiko lambatnya adopsi pengguna dan ketidakstabilan ekonomi.

Saham kompetitor seperti Uber turun 11% dan Lyft 31% tahun ini, mencerminkan tekanan industri. Grab fokus pada efisiensi untuk mengatasi biaya operasional yang meningkat.

Next Post Previous Post