Krakatau Steel Bakal Punya Pabrik Baja Baru, Kapasitas 3 Juta Ton/Tahun
Detail Proyek Pabrik
Pabrik baru ini akan fokus pada produksi slab langsung dari iron ore, mengubah Krakatau Steel dari pemain midstream-downstream menjadi produsen terintegrasi penuh.
Saat ini, perusahaan masih bergantung pada impor slab untuk kebutuhan hilir seperti hot rolled coil (HRC) dan cold rolled coil (CRC). Kapasitas 3 juta ton/tahun ini dirancang untuk memenuhi permintaan domestik yang terus meningkat, khususnya dari sektor perkapalan, perkeretaapian, dan infrastruktur nasional. Lokasi di Cilegon dipilih karena infrastruktur existing Krakatau Steel yang sudah matang, termasuk akses ke pelabuhan dan pasokan bahan baku.
Mitra dan Teknologi
Proyek ini melibatkan mitra strategis dari China, seperti Delong Steel Group, yang telah menyiapkan lahan seluas 500 hektare sejak Juni 2025.
Kerjasama mencakup transfer teknologi green steel untuk produksi ramah lingkungan, mengurangi emisi karbon melalui metode modern seperti electric arc furnace (EAF). Sebelumnya, ada rencana penambahan kapasitas HRC hingga 2027 jika kepemilikan Krakatau Posco dinaikkan menjadi 50%, tapi pabrik upstream ini lebih prioritas untuk kemandirian bahan baku.
Dampak Ekonomi dan Strategis
Ekspansi ini mendukung visi Presiden Prabowo Subianto untuk pertumbuhan ekonomi berbasis industri hilirisasi, bukan hanya ekspor bahan mentah. Krakatau Steel berharap bisa menekan impor baja yang mencapai jutaan ton per tahun, sekaligus menyerap tenaga kerja ribuan orang di Banten.
Secara finansial, ini bagian dari program penyehatan BUMN, dengan target peningkatan pendapatan dari diversifikasi produk seperti baja tahan gempa yang sudah diproduksi sejak 2025. Tantangan utama adalah fluktuasi harga bijih besi global dan kompetisi dengan impor murah dari China.
Latar Belakang dan Timeline
Diskusi proyek sudah muncul sejak 2019 untuk peningkatan kapasitas secara bertahap, tapi akselerasi terjadi di 2025 dengan persiapan kawasan industri ketiga (luas 2.000 hektare). Pada Juni 2025, lahan 500 hektare sudah disiapkan khusus untuk pabrik 3 juta ton ini.
Hingga Februari 2026, proyek memasuki fase eksekusi konkret, sejalan dengan target produksi tambahan 3 juta ton secara keseluruhan hingga 2027. Ini menjadikan Krakatau Steel sebagai pemain kunci dalam rantai pasok baja Indonesia menuju 2030.

