Lo Kheng Hong Incar Saham BDMN: Analisis Kinerja Kuat dan Valuasi 2026

Lo Kheng Hong Incar Saham BDMN: Analisis Kinerja Kuat dan Valuasi 2026
Lo Kheng Hong, investor legendaris Indonesia yang dijuluki "Warren Buffett Indonesia," sedang mengintensifkan akumulasi saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) hingga awal 2026, meski IHSG mengalami tekanan. Ia melihat potensi besar dari kinerja keuangan bank yang solid dan valuasi saham yang masih undervalued.

Alasan Utama Lo Kheng Hong Borong BDMN

Lo Kheng Hong telah menambah kepemilikan jutaan lembar saham BDMN sepanjang akhir 2025 hingga Januari 2026, menjadikannya salah satu pemegang saham individu terbesar dengan sekitar 23-24 juta lembar atau 0,24% dari total saham. 

Alasannya sederhana: kinerja Bank Danamon kuat dengan laba bersih Rp2,33 triliun hingga kuartal III 2024, didukung aset sekitar Rp200-350 triliun dan PBV rendah yang menjanjikan return tinggi. Meski IHSG anjlok dan trading halt terjadi, ia tetap optimis karena tren suku bunga deposito turun serta prospek sektor perbankan 2026 yang cerah.

Analisis Kinerja Keuangan BDMN 2025-2026

Bank Danamon mencatat pertumbuhan positif di 2025, dengan laba yang konsisten dan manajemen bertanggung jawab—faktor kunci ala Lo Kheng Hong dalam memilih saham.

Metrik Keuangan

Data 2024-2025

Alasan Menarik

Laba Bersih (9B 2024)

Rp2,33T

Kinerja bagus di tengah slowdown ekonomi

Kepemilikan Lo (Sep 2025)

23,56jt lembar (0,24%)

Posisi top 20 pemegang saham individu

PBV Saat Ini

Rendah (murah)

Bandingkan dengan BNGA & NISP di portofolio Lo

Pemilik Terbesar

MUFG Bank (91,47%)

Dukungan kuat dari investor Jepang

Valuasi BDMN dianggap murah relatif terhadap bank sejenis, membuatnya ideal untuk strategi value investing jangka panjang.

Prospek dan Strategi Investasi 2026

Lo Kheng Hong Incar Saham BDMN: Analisis Kinerja Kuat dan Valuasi 2026
(Foto Saham BDMN dari Google Finansial)
Aksi Lo Kheng Hong ini sinyal positif bagi investor ritel di pasar saham Indonesia, terutama sektor perbankan yang tahan banting. Dengan kebijakan OJK baru soal bank sebagai underwriter (seperti diskusi sebelumnya), BDMN berpotensi untung dari likuiditas pasar modal yang lebih dalam.
Next Post Previous Post